Breaking News:

Pembantaian, 114 Demonstran Myanmar Termasuk Anak-anak Tewas dalam Sehari

Kejadian Sabtu kemarin ini membuat jumlah orang yang terbunuh di Myanmar sejak kudeta 1 Februari lalu menjadi lebih dari 400 orang.

Editor: Vito
via Tribunnews
Demonstran di seluruh Myanmar menggelar aksi menyalakan lilin pada Rabu (24/3/2021) malam. 

TRIBUNJATENG.COM, YANGON - Pasukan keamanan Myanmar membunuh 114 orang termasuk anak-anak, saat aksi brutal terhadap pengunjuk rasa pro-demokrasi pada Sabtu (27/3) lalu, di tengah perayaan Hari Angkatan Bersenjata di Negeri Seribu Pagoda tersebut.

Menurut laporan kantor berita Myanmar Now, sebanyak 40 orang pendemo termasuk seorang gadis berusia 13 tahun tewas di Mandalay. Dia ditembak mati saat berada di dalam rumahnya.

Selain itu, sebanyak 27 pendemo tewas di Yangon. Seorang anak laki-laki berusia 5 tahun sebelumnya dilaporkan ada di antara korban tewas di Mandalay. Lalu, seorang anak berusia 13 tahun lain termasuk di antara yang tewas di wilayah Sagaing tengah.

Kelompok aktivis bernama Asosiasi Bantuan untuk Narapidana Politik (AAPP), menyebut, setidaknya 91 pedemo tewas pada Sabtu lalu.

Namun, beberapa media massa lokal memperkirakan angka korban tewas lebih tinggi. Situs berita lokal, Myanmar Now, menyebut jumlah korban tewas mencapai 114 orang.

Kejadian Sabtu kemarin ini membuat jumlah orang yang terbunuh di Myanmar sejak kudeta 1 Februari lalu menjadi lebih dari 400 orang.

"Mereka membunuh kami seperti burung atau ayam, bahkan saat kami tengah berada di rumah kami," kata warga Myanmar, Thu Ya Zaw, kepada kantor berita Reuters, di kota Myingyan. "Kami akan terus melancarkan protes," ujarnya.

Sejumlah saksi dan sumber mengatakan kepada BBC tentang kematian pengunjuk rasa yang juga terjadi di kota lain, seperti Magway, Mogok, Kyaukpadaung, dan Mayangone.

Di Mandalay para pengunjuk rasa membawa bendera Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD). Mereka juga menunjukkan salam tiga jari, simbol anti-otoriter mereka.

Tindakan keras dengan peluru tajam dilaporkan terjadi di lebih dari 40 lokasi di seluruh Myanmar. "Hari ini (Sabtu lalu-Red) adalah hari yang memalukan bagi angkatan bersenjata," kata Dr Sasa, juru bicara CRPH, kelompok anti-junta, seperti dikutip Reuters.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved