Breaking News:

Pembantaian, 114 Demonstran Myanmar Termasuk Anak-anak Tewas dalam Sehari

Kejadian Sabtu kemarin ini membuat jumlah orang yang terbunuh di Myanmar sejak kudeta 1 Februari lalu menjadi lebih dari 400 orang.

Editor: Vito
via Tribunnews
Demonstran di seluruh Myanmar menggelar aksi menyalakan lilin pada Rabu (24/3/2021) malam. 

Seorang Ibu dari anak berusia 14 tahun, bernama Pan Ei Phyu, berkata bahwa dia bergegas menutup semua pintu rumah saat mendengar pasukan tentara militer turun ke permukimannya.

Namun, dia tidak cukup cepat. Tak lama setelahnya, dia memegangi tubuh putrinya yang berlumuran darah.

"Saya melihatnya pingsan, dan awalnya mengira dia terpeleset dan jatuh. Tapi kemudian darah muncrat dari dadanya," katanya kepada BBC Burma dari Kota Meiktila di Myanmar tengah.

Pembunuhan secara acak itu sangat mengejutkan. Berbekal senjata perang, pasukan keamanan menembak siapa pun yang mereka lihat di jalanan.

Kebrutalan itu menunjukkan mereka mampu mengambil tindakan yang lebih ekstrem ketimbang yang telah disaksikan sejak kudeta.

Dalam pidato pada seremoni Hari Angkatan Bersenjata yang disiarkan di televisi, pemimpin kudeta, Jenderal Min Aung Hlaing menyatakan, tentara ingin bergandengan tangan dengan seluruh bangsa untuk menjaga demokrasi.

"Tindakan kekerasan yang mempengaruhi stabilitas dan keamanan untuk menyatakan tuntutan adalah perbuatan yang tidak tepat," ujarnya.

Min Aung Hlaing, menurut Reuters, juga mengatakan bahwa militer akan melindungi rakyat dan memperjuangkan demokrasi. Namun, kenyataannya tidak.

Pihak militer maupun gerakan pro-demokrasi belum mau mengendurkan sikap mereka. Militer mengira dapat meneror masyarakat untuk mencapai stabilitas dan keamanan.

Namun, gerakan jalanan yang dipimpin orang-orang muda bertekad membersihkan Myanmar dari kediktatoran militer untuk selamanya.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved