Breaking News:

Pembantaian, 114 Demonstran Myanmar Termasuk Anak-anak Tewas dalam Sehari

Kejadian Sabtu kemarin ini membuat jumlah orang yang terbunuh di Myanmar sejak kudeta 1 Februari lalu menjadi lebih dari 400 orang.

Editor: Vito
via Tribunnews
Demonstran di seluruh Myanmar menggelar aksi menyalakan lilin pada Rabu (24/3/2021) malam. 

Ultimatum

Pada Jumat malam sebelumnya, Otoritas militer Myanmar sempat memberikan ultimatum kepada warga Myanmar tentang tindakan keras yang bakal mereka terapkan.

Stasiun televisi milik pemerintah menyiarkan pernyataan bahwa "warga Myanmar harus belajar dari tragedi kematian yang buruk sebelumnya, dan bahwa mereka terancam ditembak di kepala dan punggung".

Pasukan keamanan mengerahkan kekuatan untuk mencegah unjuk rasa. Berbagai foto yang diunggah di media sosial menunjukkan orang-orang dengan luka tembak dan keluarga yang berduka.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan pernyataan kecaman atas demo kudeta di Myanmar yang menewaskan hampir 100 orang termasuk anak-anak.

"Kami menerima laporan puluhan orang tewas, termasuk anak-anak," kata kantor Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia (HAM) PBB, dalam sebuah cuitan di Twitter, Sabtu (27/3).

"Kekerasan ini memperparah ketidakabsahan kudeta dan kesalahan para pemimpinnya," tambah cuitan itu.

Juru bicara PBB, Ravina Shamdasani mengatakan, badan PBB belum dapat secara independen mengonfirmasi laporan tersebut, tetapi menambahkan bahwa beberapa laporan dari setidaknya 40 situs mengatakan bahwa polisi dan tentara menanggapi protes damai dengan kekuatan mematikan.

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengaku sangat terkejut dengan peristiwa ini.

Direktur Jaringan HAM Myanmar di Inggris, Kyaw Win, berkata kepada BBC bahwa militer negara itu tidak memiliki batasan dan tidak memegang prinsip. "Ini pembantaian, bukan lagi tindakan keras," ucapnya.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved