Breaking News:

Berita Internasional

Aparat Myanmar Tembaki Warga Sipil di Upacara Pemakaman 114 Demonstran

Pada Minggu (28/2021) waktu setempat, aparat keamanan Myanmar melepaskan tembakan di upacara pemakaman.

Editor: M Syofri Kurniawan
Kompas.com/Istimewa
Seorang pria memegang poster yang menampilkan pengunjuk rasa Kyal Sin saat orang-orang menghadiri prosesi pemakamannya di Mandalay pada 4 Maret 2021, sehari setelah dia ditembak di kepala saat mengambil bagian dalam demonstrasi menentang kudeta militer. (STR / AFP) 

TRIBUNJATENG.COM, YANGON - Pada Minggu (28/2021) waktu setempat, aparat keamanan Myanmar melepaskan tembakan di upacara pemakaman.

Dilansir Reuters, Senin (29/3/2021), warga sipil berkumpul untuk meratapi duka atas 114 orang yang tewas pada hari sebelumnya dalam tindakan keras terburuk pada gelombang aksi protes sejak kudeta militer bulan lalu.

Pelayat melarikan diri dari penembakan di sebuah layanan untuk siswa berusia 20 tahun Thae Maung Maung di Bago dekat ibukota komersial Yangon.

Baca juga: Kapolri Listyo Sigit Sebut Bom Makassar Jenis Panci, Kedua Pelaku Jaringan Teroris JAD

Baca juga: Kaesang Pangarep Kembali Bikin Sensasi, Blak-blakan Suka Sama Fahri Hamzah Saat Bertemu di Solo

Baca juga: Setelah Punya Saham Batu Bara, Nikita Mirzani Targetkan Miliki Tower 17 Lantai di Tahun 2021

Baca juga: Ini Cara Ardi Bakrie Tutupi Kekurangan Nia Ramadhani Tak Bisa Urus Dapur di Depan Keluarga Besar

Hingga berita ini dilaporkan tidak ada laporan langsung tentang korban jiwa, tiga orang di kota itu mengatakan kepada Reuters.

"Sementara kami menyanyikan lagu revolusi untuknya, pasukan keamanan baru saja tiba dan menembaki kami," kata seorang wanita bernama Aye yang berada di layanan tersebut.

"Orang-orang, termasuk kami, melarikan diri saat mereka menembak."

Sementara itu 12 orang lainnya tercatat tewas dalam insiden di tempat lain di Myanmarm, seperti dilaporkan  kelompok advokasi Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik pada hari Minggu.

Ini semakin menambah jumlah korban jiwa warga sipil yang terbunuh sejak kudeta 1 Februari menjadi 459 orang.

Ribuan penduduk desa di daerah perbatasan juga melarikan diri ke Thailand setelah serangan udara militer terhadap satu dari beberapa milisi etnis yang telah meningkatkan serangan sejak kudeta, kata para saksi dan media setempat.

Tidak ada laporan protes skala besar di Yangon atau Mandalay, yang  banyak jatuh korban jiwa pada hari Sabtu, di Hari Angkatan Bersenjata Myanmar.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved