Breaking News:

Bayi 1,5 Tahun Pun Terluka Akibat Peluru Aparat Myanmar, Pemakaman Demonstran Jadi Sasaran Tembak

Bayi bernama Saw Ta Eh Ka Lu Moo Taw, harus menerima perawatan medis setelah dia terluka oleh pecahan peluru akibat serangan udara di daerah itu.

Editor: Vito
via Tribunnews
Demonstran di seluruh Myanmar menggelar aksi menyalakan lilin pada Rabu (24/3/2021) malam. 

TRIBUNJATENG.COM, YANGON - Seorang bayi berusia 1,5 tahun di Dagon Selatan, Yangon, terluka oleh tembakan pasukan keamanan yang berada di bawah pemerintah militer atau junta Myanmar.

Bayi bernama Saw Ta Eh Ka Lu Moo Taw, harus menerima perawatan medis di Day Pu No di Hpa-pun di negara bagian Karen, Myanmar timur, setelah dia terluka oleh pecahan peluru, dalam serangan udara di daerah itu pada 27 Maret.

Tak hanya itu, seorang pria di Kota Pathein, Ayeyarwaddy ditembak mati pada Minggu (28/3) malam. Dikutip dari Channel News Asia, pada hari yang sama sebanyak 13 orang tewas dalam insiden di wilayah lain.

Adapun sehari sebelumnya, yaitu pada Sabtu (27/3), bertepatan dengan parade Hari Angkatan Bersenjata Myanmar, sebanyak 114 orang dibunuh pasukan keamanan saat menghadapi unjuk rasa di 44 kota kecil dan besar. Di antara yang meninggal termasuk anak-anak hingga remaja.

Sampai saat ini jumlah korban jiwa dalam unjuk rasa itu merupakan yang terbesar dalam satu hari. Dengan demikian, total korban tewas sejak kudeta militer Myanmar 1 Februari 2021 lalu bertambah menjadi 459 orang.

Adapun, aparat keamanan Myanmar dilaporkan melepaskan tembakan di upacara pemakaman pada Minggu (28/3) waktu setempat.

Seperti dilansir Reuters, Senin (29/3), saat itu warga sipil berkumpul untuk meratapi duka atas 114 orang yang tewas pada hari sebelumnya dalam tindakan keras terburuk pada gelombang aksi protes sejak kudeta militer bulan lalu.

Dilansir Reuters, Senin (29/3), menurut keterangan tiga saksi, para pelayat melarikan diri dari penembakan di sebuah layanan persemayaman untuk siswa berusia 20 tahun, Thae Maung Maung, di Bago, dekat ibukota komersial Yangon. Hingga berita ini dilaporkan, tidak ada laporan langsung tentang korban jiwa.

"Sementara kami menyanyikan lagu revolusi untuknya, pasukan keamanan baru saja tiba dan menembaki kami. Orang-orang, termasuk kami, melarikan diri saat mereka menembak," kata seorang wanita bernama Aye, yang berada di layanan tersebut.

Sementara itu, 12 orang lain tercatat tewas dalam insiden di tempat lain di Myanmar, seperti dilaporkan kelompok advokasi Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik pada hari Minggu.

Bentuk-bentuk kekejaman militer Myanmar terhadap para pendemo juga diungkapkan sejumlah saksi.

Seorang saksi menyatakan, aparat Myanmar tega menembak mati dan membakar jasad seorang pendemo berusia sekitar 40 tahun di Kota Mandalay. Penduduk setempat tidak mampu menyelamatkan jasad sang pendemo, karena terus dihujani tembakan oleh aparat.

Sementara itu, Komite Pemogokan Umum Kebangsaan (GSCN), yaitu satu di antara kelompok aktivis antikudeta, menyampaikan pernyataan dalam sebuah surat terbuka yang diunggah di Facebook.

GSCN mendesak kelompok etnis bersenjata untuk secara kolektif melindungi pemuda, wanita, anak-anak, dan orang tua yang menentang kekuasaan militer.

Selain itu, pada Minggu malam, pasukan keamanan diduga membakar lima rumah warga di Mandalay. Warga kemudian mengepung sebuah kantor polisi untuk meminta keterangan pasukan keamanan tersebut. (Tribunnews/cnn)

Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved