Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Ngopi Pagi

FOKUS: Nggak Mudik Nggak Kaget

LEBARAN tahun 2020 tidak ada mudik. Saat itu masyarakat perantau di luar Jateng masih cukup gagap menyambut gegap gempita Lebaran, tanpa mudik.

Penulis: iswidodo | Editor: iswidodo
tribunjateng/bram
Iswidodo wartawan Tribunjateng.com 

Ditulis oleh Wartawan Tribun Jateng, Iswidodo

LEBARAN tahun 2020 tidak ada mudik. Saat itu masyarakat perantau di luar Jateng masih cukup gagap menyambut gegap gempita Lebaran, tiba-tiba tanpa mudik. Tak bisa bertemu keluarga besar di kampung halaman.
Meski sebagian ada yang menerobos pulang sebelum Ramadan. Karena di tempatnya bekerja, di rantau, sedang "efisiensi".
Pulang kampung cari aman. Pengiritan hidup di desa sambil cari peluang pekerjaan. Toh sekarang desa dan kota tak jauh beda. Di desa ada pabrik, minimarket, tempat nongkrong, kafe, taksi atau ojek online, dan sebagainya. Fasilitas lengkap.
Namun juga perlu disadari bahwa harga-harga kebutuhan pokok, sabun, sampo, roko jlk, gula hampir sama di desa dan kota.
Jadi apa alasan kuat seseorang untuk mudik atau menuju udik (desa) jika kondisi desa dan kota nyaris sama?
Tentu bersilaturahmi atau berkumpul keluarga kerabat, menikmati kuliner khas desa dan nostalgia masa lalu.
Nah sekarang zaman modern, bisa video call ngobrol tatap muka jarak jauh. Kuliner khas daerah pun mudah ditemukan di tempat rantau, di kota kota besar. Bahkan cara penyajian lebih nyaman dirasa. Dan harga pun selisih tak seberapa.
Setelah pandemi setahun berlalu, vaksinasi sudah digalakkan dan mulai menyasar masyarakat umum. Angka penularan pun makin "terkendali". Volume kamar atau dipan untuk pasien Covid-19 berkurang. Dari alokasi semula hampir 60 persen kini tinggal 25-30 persen.
Meski segitu, angka penularan masih tergolong tinggi. Nasih di angka rawan. Belum bisa disebut aman. Maka pemerintah pusat memutuskan tahun 2021 tidak ada mudik.
Keputusan ini diambil setelah Rapat Tingkat Menteri yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy dan sejumlah menteri dan lembaga terkait. Pemerintah menetapkan, pada tahun 2021 mudik ditiadakan.
Berarti sudah dua lebaran tidak ada mudik. Misalnya diperbolehkan mudik pun, orang yang mudik tahun 2021 ini tidak sebanyak 2019. Kala itu pemudik ke Jateng mencapai kira-kira tujuh juta orang. Efek ekonomi bagi Jateng cukup besar karena tiap pemudik pulang kampung bawa uang.
Tahun 2021 ini kondisi ekonomi belum pulih. Meski sudah mulai menggeliat. Kalaupun diperbolehkan mudik tentu juga mereka belum semeriah 2019. Dana yang dibawa pulang juga belum banyak. Baru mulai kerja lagi.
Maka dengan pelbagai pertimbangan, tidak mudik justru jadi pilihan tepat di saat kondisi ekonomi belum sepenuhnya pulih, tabungan belum terkumpul, dan pisah dari keluarga belum begitu lama. Istilah sederhananya, belum kangen berat.
Beda lagi dengan nasib perantau yang sudah dua lebaran tidak mudik karena pertimbangan demi kesehatan, yaitu kesehatan diri dan keluarga di kampung halaman. Kangen berat masih bisa ditahan. Toh keluarga di desa juga sudah mengerti apa itu corona.
Maka dengan adanya larangan mudik oleh pemerintah, masyarakat tidak kaget dan lebih siap dibanding tahun lalu. Dengan begitu pemerintah tidak perlu terlalu galak dan curiga terhadap kendaraan berisi rombongan keluarga dari kota ke desa. Mereka sudah taat terhadap protokol kesehatan, bahkan sudah divaksin. Jika mereka terpaksa pulang kampung berarti ada kepentingan mendesak. Sangat penting untuk pulang, bukan untuk jalan-jalan atau piknik. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved