Breaking News:

UIN Walisongo Semarang

Deradikalisasi Semu di Masa Pandemi Covid-19: Menyoal Pelibatan Perempuan dalam Terorisme

Jangan mengganggap bahwa dalam situasi seperti sekarang ini, kelompok radikalisme dan terorisme agama diem dalam kesenyepan.

IST
Endang Supriadi, M.A. Dosen Sosiologi, FISIP UIN Walisongo 

Oleh: Endang Supriadi, M.A. Dosen Sosiologi, FISIP UIN Walisongo

SETAHUN sudah fenomena Covid-19 melanda bangsa Indonesia. Setahun pandemi Indonesia data Covid-19 tidak ada penurunan data yang signifikan. Jika dilihat dari per bulan Maret 2021 saja kasusnya mencapai 1,347 juta.

Melihat data ini menjadi perhatian tidak hanya pemerintah melainkan semua elemen masyarakat. Pergerakan pandemi Covid-19 ini harus dijadikan sebagai tanda pengingat untuk kita semua. Jangan mengganggap bahwa dalam situasi seperti sekarang ini, kelompok radikalisme dan terorisme agama diem dalam kesenyapan.

Perlu adanya kontrol sosial untuk mempersempit gerak mereka untuk melakukan aksi amaliyah dengan situasi masyarakat sedang menghadapi pandemi Covid-19. Rentetan peristiwa aksi teror di awal tahun 2021 memberikan peringatan kepada pemerintah (BNPT) bahwa proses deradikalisasi perlu dikembangkan model penangannya di era pandemi Covid-19.

Belum genap satu bulan publik dikagetkan oleh aksi teror bom bunuh diri yang terjadi di depan gerbang gereja Katolik Katedral Makasar, pada Minggu (28/3/21) kurang lebih pukul 10.28 WITA. Situasi dimana para jemaat di dalam gereja baru saja selesai melaksanakan Misa Minggu Palma.

Peristiwa tersebut bahkan tercatat kurang lebih ada 20 korban luka. Pernyataan dari pihak kepolisian bahwa pelaku bom bunuh diri Makasar dilakukan oleh sepasang suami istri. Pelibatan perempuan dalam terorisme muncul kembali diruang publik, perempuan sudah lama menjadi kelompok yang menjadi target incaran untuk dilibatkan dalam kejatahan ini.

Kita ketahui bahwa sosok perempuan sebagai madrasahtul ula (madrasah pertama) untuk anak-anaknya, karena perempuan dipandang sebagai sosok yang memiliki peranan sangat besar dalam menanamkan nilai-nilai utama kepada anak-anak dalam lingkaran keluarganya.

Posisi ini yang kemudian disalahgunakan oleh kelompok teroris untuk memanfaatkan sosok perempuan sebagai aktor yang mempersiapkan benih-benih teroris baru yang akan menggetarkan dunia di masa mendatang. Keterlibatan perempuan dalam gerakan dan aksi terorisme telah benar-benar mengubah wajah terorisme secara besar-besaran.

Ideologi pengusung kekerasan dan penghancuran ini tidak lagi didominasi oleh laki-laki, karena sosok perempuan sekarang turut andil mengambil aksi, seperti halnya yang terjadi baru-baru ini di Makasar. Walisongo.ac.id

Radikalisme, Terorisme, dan Perempuan:

Halaman
123
Penulis: Abduh Imanulhaq
Editor: abduh imanulhaq
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved