Breaking News:

Dunia Makin Marah Korban Tewas di Myanmar Sudah Lampaui 500 Orang

Terus bertambahnya korban jiwa akibat tindakan militer melawan gerakan anti-kudeta Myanmar, membuat pejabat di dunia marah dan meningkatkan kecaman.

Editor: Vito
STR / AFP
Para pengunjuk rasa memberi hormat tiga jari dalam aksi menyalakan lilin untuk menghormati mereka yang telah meninggal dalam demonstrasi menentang kudeta militer di Yangon, Myanmar, Sabtu (13/3/2021) malam. Kekerasan yang dilakukan junta militer Myanmar mendorong seruan revolusi semakin menguat. 

TRIBUNJATENG.COM, WASHINGTON  DC - Terus bertambahnya korban jiwa akibat tindakan keras militer melawan gerakan anti-kudeta Myanmar, membuat para pejabat di dunia marah dan meningkatkan kecaman.

Setidaknya sudah tercatat sebanyak 510 warga sipil yang tewas dalam hampir 2 bulan upaya junta untuk menghentikan protes anti-kudeta, menurut kelompok Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP). Tetapi disebutkan bahwa jumlah sebenarnya mungkin jauh lebih tinggi.

Washington misalnya yang menangguhkan pakta perdagangan dengan Myanmar. Presiden AS Joe Biden pada Senin (29/3), mengumumkan bahwa Perjanjian Kerangka Kerja Perdagangan dan Investasi 2013, yang mengatur cara untuk meningkatkan bisnis, akan tetap ditangguhkan sampai demokrasi Myanmar pulih.

"Amerika Serikat mengutuk keras kekerasan brutal pasukan keamanan Burma terhadap warga sipil," kata Perwakilan Dagang AS, Katherine Tai, menggunakan nama lama Myanmar, Burma.

PBB menyerukan front persatuan global, untuk menekan junta militer setelah lebih dari 100 pengunjuk rasa tewas dalam akhir pekan berdarah. Sekretaris Jenderal PBB Guterres mendesak pemerintah Myanmar untuk melakukan transisi demokrasi yang serius.

"Benar-benar tidak dapat diterima melihat kekerasan terhadap orang-orang pada tingkat yang begitu tinggi, begitu banyak orang terbunuh," katanya, dalam konferensi pers.

"Kami membutuhkan lebih banyak persatuan, (dan) lebih banyak komitmen dari komunitas internasional untuk memberikan tekanan, guna memastikan bahwa situasinya berbalik (membaik)," ucap Guterres.

Dewan Keamanan PBB berencana akan bertemu pada Rabu (31/3), untuk membahas situasi Myanmar yang telah mencapai korban jiwa sebanyak 510 orang, kata sumber diplomatik, setelah Inggris menyerukan pembicaraan darurat.

Perancis mengutuk kekerasan Myanmar, dan menyebut junta militer 'buta dan mematikan'. China juga ikut menambahkan suara keprihatinan internasional pada Senin (29/3), dan menyerukan pengekangan dari semua sisi.

Rusia mengatakan, pihaknya sangat prihatin dengan meningkatnya korban sipil, meskipun mengakui pihaknya membangun hubungan dengan otoritas militer Myanmar.

Sejauh ini, AS, Inggris, dan Uni Eropa telah dan menjatuhkan sanksi sebagai tanggapan atas kudeta Myanmar dan tindakan keras junta militer, tetapi tekanan diplomatik belum bisa membujuk para jenderal untuk meredakan langkahnya. (Kompas.com)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved