Breaking News:

Total Sudah 510 Orang Tewas, Serangan Sampah Jadi Taktik Baru Perjuangan Demonstran Myanmar

Aksi 'serangan sampah' menjadi taktik baru pengunjuk rasa Myanmar untuk melawan junta militer, saat jumlah korban tewas sudah mencapai lebih dari 500.

Editor: Vito
STR / AFP
Pengunjuk rasa bersembunyi di belakang barikade usai melemparkan dan bom molotov dan proyektil menggunakan ketapel ke arah pasukan keamanan dalam aksi protes terhadap kudeta militer di Yangon, Myanmar, Rabu (17/3). 

TRIBUNJATENG.COM, NAY PYI TAW - Aksi 'serangan sampah' menjadi taktik baru pengunjuk rasa Myanmar untuk melawan junta militer, saat jumlah korban tewas dalam demo anti-kudeta sudah mencapai lebih dari 500.

Pengunjuk rasa berusaha untuk meningkatkan kampanye pemberontakan sipil pada Selasa (30/3), dengan meminta penduduk membuang sampah ke jalan-jalan di persimpangan jalan utama sebagai taktik baru, seperti yang dilansir dari Reuters pada hari yang sama.

"Aksi serangan sampah ini adalah aksi menentang junta," bunyi tulisan dari sebuah poster di media sosial.

Aksi itu bertentangan dengan seruan dari junta militer melalui pengeras suara di beberapa lingkungan di Yangon pada Senin (29/3), yang mendesak penduduk untuk membuang sampah dengan benar.

Setidaknya sudah tercatat sebanyak 510 warga sipil yang tewas dalam hampir 2 bulan upaya junta untuk menghentikan protes anti-kudeta, menurut kelompok Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP). Tetapi disebutkan bahwa jumlah sebenarnya mungkin jauh lebih tinggi.

Pasukan keamanan pada Senin (29/3), menembakkan senjata kaliber yang jauh lebih berat dari biasanya untuk membereskan barikade kantong pasir, kata saksi mata. Belum jelas tipe senjata apa yang digunakan pasukan keamanan itu.

Sementara, televisi pemerintah menyebut bahwa pasukan keamanan menggunakan senjata anti-huru-hara untuk membubarkan kerumunan orang-orang teroris yang kejam, yang menghancurkan jalan, dan satu orang terluka.

Pada Senin (29/3) malam waktu setempat, terdengar lebih banyak tembakan terdengar di daerah Dagon Selatan, yang meningkatkan kekhawatiran tentang lebih banyaknya korban, kata seorang warga setempat pada Selasa (30/3).

Komite Serangan Umum Nasional, satu kelompok utama di balik aksi protes, pada Senin (29/3), mengirimkan surat terbuka yang meminta pasukan kelompok etnis bersenjata Myanmar untuk membantu mereka melawan penindasan yang tidak adil dari junta militer.

Sementara, sudah ada tiga kelompok yang telah berkoalisi untuk melawan kekerasan junta militer, yaitu Tentara Aliansi Demokratik Nasional Myanmar, Tentara Arakan, dan Tentara Pembebasan Nasional Ta'ang.

Bahkan, kelompok etnis minoritas tertua Myanmar, Persatuan Nasional Karen (KNU), pada akhir pekan lalu telah mengobarkan pertempuran dengan menyerbu satu pos militer, yang kemudian dibalas dengan bom jet militer. (Kompas.com)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved