Berita Video
Video Sopir dan Kernet Bus Cemaskan Larangan Mudik
Musim mudik lebaran 2020 menjadi masa-masa sulit bagi Tio (31), sopir Perusahaan Otobus (PO) Dewi Sri.
Penulis: Fajar Bahruddin Achmad | Editor: abduh imanulhaq
TRIBUNJATENG.COM, TEGAL - Berikut ini video sopir dan kernet bus cemaskan larangan mudik.
Musim mudik lebaran tahun lalu pada 2020, menjadi masa-masa sulit bagi Tio (31), seorang sopir Perusahaan Otobus (PO) Dewi Sri di Terminal Tipe A Kota Tegal.
Dia harus kehilangan penghasilannya sebagai sopir bus rute Tegal- Jakarta selama sebulan full.
Padahal bagi pekerja di sektor transportasi sepertinya, musik mudik menjadi ladang penghasilan terbesar selama setahun sekali.
Dia tidak bisa membayangkan, jika kondisi tersebut akan terulang lagi di tahun ini karena adanya larangan mudik.
Tio mengatakan, penghasilan terbesarnya harus hilang karena adanya larangan mudik.
Mestinya di musim mudik penghasilan dari menyopiri pergi pulang Tegal- Jakarta, mencapai Rp 700 ribu sampai Rp 800 ribu.
Berbeda dengan hari-hari biasa yang penghasilannya lebih rendah, hanya Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu.
"Penghasilan sopir dan kernet kan dua hari sekali, bolak-balik Tegal Jakarta. Musim mudik sampai Rp 700 ribu sampai Rp 800 ribu," kata Tio, warga Debongwetan Kabupaten Tegal, kepada tribunjateng.com, Jumat (2/4/2021).
Tio bercerita, karena tidak ada penghasilan sebagai sopir, ia pun harus bekerja serabutan menjadi tukang parkir dan kuli bangunan.
Ia menjadi tukang parkir di daerah rumah mertuanya, di Warungpring, Pemalang. Penghasilan itu untuk mencukupi kebutuhan makan sehari-hari.
Namun, menurut Tio, kebutuhan menjelang lebaran tidak hanya untuk mencukupi makan sehari-hari.
Ada kebutuhan lain, seperti gula, teh dan sebagainya untuk silaturahmi ke keluarga.
Tahun lalu ia sampai harus menjual kulkas, handphone, dan perhiasan untuk memenuhi itu.
"Boro-boro ngasih uang ke keluarga. Barang yang sudah ada dijual semua, kulkas, gelang-gelang istri, dan HP.
Itu untuk gula teh silaturahmi dan baju baru anak. Karena saya percaya itu akan melancarkan rezeki," ujarnya.
Tio berharap, pemerintah mempertimbangkan lagi atas kebijakan larangan mudik pada Lebaran 2021.
Ia menilai kebijakan tersebut sangat berdampak terhadap penghasilan para sopir dan kernet bus. Terlebih upah yang diterima adalah harian setiap kerja.
Tio mengatakan, jumlah sopir bus beserta kernetnya di PO Dewi Sri yang ada di Terminal Tipe A Kota Tegal saja mencapai 16 orang.
Belum lagi dengan jumlah sopir dan kernet di perusahaan otobus lainnya atau daerah lainnya. Tentu ada ratusan, bahkan ribuan yang terdampak.
"Ya kami berharap peraturan larangan mudik itu dipertimbangkan lagi. Seenggaknya dikasih kelonggaran, biar bisa tetap berangkat," ungkapnya.
Seorang kernet bus, Iyan (40) mengatakan, larangan mudik tahun lalu membuatnya menganggur selama sebulan full.
Ia kemudian harus bekerja sebagai pembantu truk pengangkut logistik sembako.
Iyan berharap, musim mudik tahun ini kondisinya sudah normal seperti tahun-tahun sebelumnya.
Pemerintah tidak melarang adanya mudik. Ia menilai justru pemerintah harusnya memperbolehkan mudik dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.
"Kalau kami sebagai buruh inginnya kaya dulu lagi normal. Namanya buruh, kalau gak kerja gak makan.
Lain dengan pegawai yang dapat bulanan. Kami orang kecil dan orang susah," kata Iyan warga Kelurahan Margadana, Kota Tegal. (*)
TONTON JUGA DAN SUBSCRIBE: