Breaking News:

Berita Sragen

Lindungi Petani Lokal, Bupati Sragen Surati Presiden Jokowi

Ia mengatakan kebutuhan masyarakat berkisar antara 83.000 ton beras. Sehingga surplus Sragen di tahun 2020 sudah mencapai 13.315 ton beras

Istimewa
Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati ketika mendengarkan keluhan petani 

TRIBUNJATENG.COM, SRAGEN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen mengirimkan surat keberatan atas wacana kebijakan impor beras kepada Pemerintah Pusat pada 24 Maret 2021 lalu.

Dalam isi surat tersebut, Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati menjelaskan bahwa Kabupaten Sragen merupakan daerah sentra produksi atau penyangga beras nomor tiga di Jawa Tengah.

Pada tahun 2020, luas panen 103.629 hektare dengan hasil produksi 668.553 ton gabah kering giling. Tahun 2021, luas sawah 39.828 hektare ditambah luas tanam padi pada masa tanam (MT) sebesar 43.150 hektare, dengan hasil produksi sampai tanggal 16 Maret 2021 sebesar 287.513 ton.

Dengan data tersebut, Bupati Yuni mengusulkan agar pemerintah pusat mengutamakan penyerapan gabah lokal dahulu. Sehingga tidak perlu menerima impor beras.

"Belum impor saja harga gabah sudah turun, kita minta pemerintah fokus penyerapan. Kasihan petani, ketika panen harga malah turun," terang Bupati, Selasa (6/4/2021).

Menurutnya, hasil produksi gabah atau beras di Kabupaten Sragen mampu mencukupi kebutuhan lokal bahkan didistribusikan ke wilayah lain di Indonesia.

Ia mengatakan apabila wacana impor tetap dilaksanakan akan berdampak pada produktivitas perani dan harga gabah atau beras di Kabupaten Sragen.

Sementara Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Disperketapang) Sragen, Eka Rini Mumpuni Titi Lestari mengaku kondisi kebutuhan beras khususnya di Sragen produksinya cukup.

Ia mengatakan kebutuhan masyarakat berkisar antara 83.000 ton beras. Sehingga surplus Sragen di tahun 2020 sudah mencapai 13.315 ton beras.

Eka menambahkan, petani Sragen mempunyai antusias yang tinggi untuk budidaya tanaman pangan khususnya padi. Terbukti dengan mengoptimalkan ladang kosong untuk menanam padi.

"Alhamdulillah, petani kami masih punya antusias tinggi untuk menanam padi dengan memanfaatkan ladangnya yang kosong. Tentunya ini bisa meningkatkan pendapatan mereka," katanya.

Dengan adanya wacana impor beras ditambah faktor curah hujan yang tinggi sudah memperburuk harga gabah.

Eka berharap adanya isu impor beras tidak muncul lagi sehingga tidak akan membuat gejolak dan tidak berdampak pada harga gabah bagi petani.   

"Kalau ada wacana untuk impor beras tentu sangat berpengaruh sekali terhadap kondisi perberasan yang ada dibawah," pungkasnya. (uti)

Penulis: Mahfira Putri Maulani
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved