Breaking News:

Demak

Bawaslu Demak Canangkan Desa Anti Politik Uang

Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Demak mencanangkan desa anti politik uang.

Istimewa
Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Demak mencanangkan desa anti politik uang di Desa Mojosimo, Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak. Pecanangan itu untuk mencegah praktek politik uang dan menjaga pemilu tersenggara secara bersih. Ketua Bawaslu Dema Khoirul Saleh mengatakan pencanangan ini juga untuk memperingati Hari Ulang Tahun lembaga pengawas pemilu ini yang ke-13 tahun. 

Penulis: Muhammad Yunan Setiawan

TRIBUNJATENG.COM, DEMAK – Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Demak mencanangkan desa anti politik uang di Desa Mojosimo, Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak. Pecanangan itu untuk mencegah praktek politik uang dan menjaga pemilu tersenggara secara bersih. 

Ketua Bawaslu Dema Khoirul Saleh mengatakan pencanangan ini juga untuk memperingati Hari Ulang Tahun lembaga pengawas pemilu ini yang ke-13 tahun. Momentem tersebut, kata dia, digunakan untuk meredam politik uang yang banyak ragamnya.

"Modus politik uang banyak macamnya diantaranya adalah janji akan dibangunkan jalan jembatan dan infrastruktur itu semua dapat dikatakan politik uang. Sebab dijanjikan sesuatu untuk memenangkan yang bersangkutan," ujarnya kepada Tribun Jateng, Minggu, (11/4/2021).

"Sodakoh politik juga dapat dikatakan politik uang, karena disamarkan dengan kalimat Sodakoh politik sehingga  warga percaya dan mau menerimanya, padahal itu sama saja," imbuhnya. 

Diceritakan juga pengalaman sewaktu menangani pemilu serentak tahun 2019 dirinya menemukan ada tumpukan kardus yang di dalamnya terdapat amplop berisi uang dan alat peraga kampanye di kantor balai desa di ssatu desa di Demak.

 Saat dilakukan penyelidikan siapa pemilik kardus kepada perangkat dan kepala desa ternyata tidak ada tidak ada yang tau dan mau mengakuinya. 

"Bahkan perangkat pemilik meja yang ada kardus tersebut juga tidak mengakui asal muasal dan pemilik kardus tersebut. Mereka ketakutan karena jika ketahuan akan ada sanksi pidana," terang Khoirul.

Menurutnya untuk mencegah maraknya politik uang harus ada cara untuk merubah mindset masyarakat agar tidak lagi bergantung pada politik uang.  

”Bagaimana merubah mindset masyarakat seperti yang kita harapkan. Bahwasanya mereka harus memilih pemimpin yang benar-benar berkualitas untuk kesejahteraan mereka kelak 

"Bukan hanya pemimpin yang membagikan uang agar dipilih karena jika terpilih mereka juga akan berusaha mengembalikan modal plus keuntungan dengan cara apa saja," tegasnya. 

Menurutnya Faktor terjadinya politik uang adalah karena calon tidak punya keyakinan terhadap dirinya sendiri untuk menang. Sehingga mereka tidak memiliki nilai moral atau tidak perduli menang dengan cara tidak beradab karena ingin memperoleh jabatan.

(*)

Penulis: Muhammad Yunan Setiawan
Editor: Daniel Ari Purnomo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved