Breaking News:

Ngopi Pagi

FOKUS: Alor Bukan Alon

Alor bukan plesetan dari alon (perlahan-lahan). Selain nama sebuah pulau di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), alor juga berarti nama suku,

tribunjateng/bram
Sujarwo atau Pak Jarwo wartawan Tribun Jateng 

Ditulis oleh Wartawan Tribun Jateng, Sujarwo

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Alor bukan plesetan dari alon (perlahan-lahan). Selain nama sebuah pulau di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), alor juga berarti nama suku, dan terna yang tumbuh dekat pantai dan dapat dijadikan sayur. Makna lain alor adalah suaeda maritima, spesies tumbungan berbunga.
Penduduk Alor yang kini berjumlah 200 ribu lebih jiwa pernah mengalami peristiwa pahit yang dampaknya begitu cepat. Sebagian wilayah itu tinggal puing karena perang antarkerajaan.
Menurut cerita, kerajaan tertua di Kabupaten Alor adalah kerajaan Abui di pedalaman pegunungan Alor dan kerajaan Munaseli di ujung timur pulau Pantar. Suatu ketika, kedua kerajaan ini terlibat Perang Magic. Mereka menggunakan kekuatan gaib. Munaseli mengirim lebah ke Abui, sebaliknya Abui mengirim angin topan dan api ke Munaseli.
Perang ini akhirnya dimenangkan Munaseli. Kerajaan berikutnya adalah Pandai yang terletak dekat kerajaan Munaseli dan Kerajaan Bunga Bali yang berpusat di Alor Besar. Munaseli dan Pandai akhirnya juga terlibat dalam perang yang menyebabkan Munaseli meminta bantuan kepada raja kerajaan Majapahit (1293-1527 M).
Sekitar awal tahun 1300-an, satu detasmen tentara bantuan kerajaan Majapahit tiba di Munaseli. Tetapi yang mereka temukan hanyalah puing-puing kerajaan Munaseli. Penduduknya telah melarikan diri ke berbagai tempat di Alor dan sekitarnya. Para tentara Majapahit ini akhirnya banyak yang menetap di Munaseli.
Perang reda, penduduk Alor mulai menata diri dengan khasnya. Alor pun memiliki daya tarik tersendiri. Laporan pertama orang-orang asing tentang Alor awal tahun 1522 adalah Pigafetta. Ia penulis yang bersama awak armada Victoria sempat berlabuh di pantai Pureman, Alor Barat Daya. Mereka dalam perjalanan pulang ke Eropa setelah berlayar keliling dunia dan setelah Magelhaen, pemimpin armada Victoria  terbunuh di Philipina. 
Pigafetta, dalam buku hariannya, menyebut keliru bahwa penduduk Alor memiliki telinga lebar yang dapat dilipat untuk bantal sewaktu tidur. Padahal, sebenarnya, payung tradisional orang Alor yang terbuat dari anyaman daun pandan. Payung ini dipakai untuk melindungi tubuh sewaktu hujan. 
Kini, “kuping lebar” itu kini tak mampu melindungi penduduk Alor. Pada 4 April 2021, Alor kembali mengalami peristiwa pahit. Bukan perang tapi banjir bandang dan tanah longsor akibat hujan deras. Alor bak tinggal puing. Puluhan orang meninggal, belasan hilang, dan yang selamat kini mengungsi.
Alor tidak sendirian. Musibah dampak cuaca ekstrem akibat dari siklon tropis Seroja itu melanda hampir seluruh daerah di NTT. Terparah delapan daerah, selain Alor, yakni Flores Timur, Lembata, Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Malaka, dan Kabupaten Sabu Raijua.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 128 orang meninggal dunia, 8.424 orang dari 2.019 keluarga mengungsi. Itu catatan semantara, pemerintah daerah, kata Kepala BNPB Doni Monardo, terus memutakhirkan data dari kaji cepat di lapangan.
Presiden Joko Widodo pun langsung menggelar rapat dengan jajarannya, lantas menyampaikan lima arahan agar pemulihan wilayah bencana berjalan cepat. Termasuk pencarian korban hilang. "Ini yang akan terus kita usahakan agar yang dalam pencarian tadi segera ditemukan," kata Jokowi saat mengunjungi salah satu lokasi bencana di Desa Amakaka, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, NTT.
Benar Pak Presiden, mengatasi bencana semacam Alor dan wilayah lain itu memang bukan alon. Tapi serba cepat tanggap. (*)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved