Breaking News:

Ngopi Pagi

FOKUS: Semarak Ramadan

Alhamdulillah. Selamat datang bulan mulia Ramadan. Ungkapan bersyukur ini sudah tentu tersampaikan.

tribunjateng/bram
Moh Anhar wartawan Tribun Jateng ok 

Ditulis oleh Wartawan Tribun Jateng, Moh Anhar

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Alhamdulillah. Selamat datang bulan mulia Ramadan. Ungkapan bersyukur ini sudah tentu tersampaikan. Berdasar hasil sidang itsbat, Pemerintah telah menetapkan awal puasa atau 1 Ramadan 1442 Hijriah jatuh pada Selasa, 13 April 2021.

Tim Unifikasi Kalender Hijriyah Kementerian Agama melaporkan jika hilal awal Ramadan 1442 H teramati di wilayah Indonesia pada Senin (12/4). Sebelumnya, ormas Muhammadiyah telah menetapkan awal puasa secara perhitungan hisab, dengan hasil awal puasa jtuh Selasa, 13 April .
Sontak, masjid serta musala dipenuhi jemaah yang mengikuti salat tarawih, salat sunnah yang hanya dilaksanakan pada bulan Ramadan. Semarak Ramadan terasa grengseng-nya, meski masih dilakukan pembatasan aktivitas yang mengundang kerumunan massa. Pandemi covid-19 yang menerjang sudah lebih dari setahun ini belum berlalu.
Upaya menjaga jarak demi mencegah penularan Covid-19 masih dilakukan, termasuk dalam saf-saf salat berjamaah yang harus dibuat renggang.
Adanya lampu hijau izin dari pemerintah untuk bisa menunaikan kegiatan ibadah di masjid seakan menjadi oase dalam aktivitas keagamaan. Betapa tidak. Awal pandemi pada 2020 silam, Pemerintah mengimbau untuk menunaikan salat di rumah saja. Masjid sempat dilakukan penutupan sementara. Begitu pula aktivitas pengajian, yang bisa menyedot banyak jamaah, ditiadakan. Selanjutnya, kegiatan-kegiatan tersebut dialihkan dalam media online.
Pengalaman tersebut merupakan sesuatu yang tak pernah terpikir sebelumnya. Bukan hanya di bumi Indonesia. Hal serupa juga terjadi secara global, di seluruh penjuru dunia. Mekah, sebagai kota suci Umat Islam, misalnya. Selain saf salat yang berjarak, Masjidil Haram juga sempat dilakukan penutupan. Lalu, ibadah umrah dan haji dilakukan pembatasan ketat. Dan. dampaknya bagi calon jemaah haji asal Indonesia, mereka harus rela menunda keberangkatan dulu karena adanya pembatasan.
Bisa digelarnya ibadah di masjid saat ini memang harus disyukuri. Protokol kesehatan harus diterapkan sebagai bentuk ikhtiar melindungi diri dan orang lain dari terpaan Covid-19. Hal inilah yang harus menjadi perhatian. Kita tak ingin muncul klaster baru dari kegiatan ibadah ini. Semua harus bisa menjaga diri. 
Bila dibandingkan dengan tahun-tahun silam, memang suasana Ramadan terasa berkurang. Dulu, untuk menyambut datangnya bulan puasa, di berbagai daerah terdapat acara-acara tradisi yang digelar masyarakat. Di Kota Semarang ada dugderan. Di kota-kota lain, juga ada tradisi serupa. Di kampung-kampung, biasanya juga ada pawai obor yan diramaikan para bocah.  Kegiatan-kegiatan itu menandakan sukacita menyambut datangnya Ramadan.            
Hal lain yang terasa hilang, yaitu kegiatan buka bersama. Ini merupakan acara yang telah menjadi kebiasaan berbuka bersama keluarga, sahabat, atau komunitas. 
Dengan kondisi pandemi seperti ini, tentu kita berharap suasana ibadah yang jauh dari hingar bingar keramaian justru akan membawa "kesyahduan" tersendiri. Kita berusaha menemukan makna hakiki dari kegiatan ibadah yang kita lakukan. Ibadah menjadi lebih terasa personal. Meski demikian, aktivitas sosial masih tetap bisa berlangsung dengan bentuk yang lain.    (*)

Penulis: moh anhar
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved