Breaking News:

Berita Batang

Selama Pandemi, Angka Stunting di Batang Alami Kenaikan Hingga 16 Persen

Di masa pandemi Covid-19, jumlah anak yang mengalami gizi buruk atau stunting di Kabupaten Batang cukup mengalami kenaikan yang signifikan.

Istimewa
Bupati Batang Wihaji dan Dokter Spesalis Anak RSUD Batang dr Tan Evi Susanti melakukan home visit pasien anak stunting di Desa Brokoh Kecamatan Wonotunggal, beberapa waktu lalu. 

TRIBUNJATENG.COM,BATANG - Di masa pandemi Covid-19, jumlah anak yang mengalami gizi buruk atau stunting di Kabupaten Batang cukup mengalami kenaikan yang signifikan.

Dokter spesialis anak RSUD Kalisari Batang Tan Evi Susanti  mengatakan, data anak stunting setiap tahunnya mengalami kenaikan, apalagi dimasa pandemi kenikan cukup signifikan.

Ia pun merinci data dari tahun 2017 angkanya stunting  mencapai 4.958 anak dari total 51.553 anak atau 9.62 persen.

Tahun 2018 angka stunting mengalami penurunan yakni 9.35 persen atau  4.921 anak dari total 53.653 anak.

Lalu, tahun 2019 angka stunting naik menjadi 10.27 persen atau 5.303 dari total anak 51.622.

“Untuk tahun 2020 Februari angka prosentasinya naik  10.50 persen atau 4.686 dari total 44.637 anak, lalu Agustus hingga Desember 2020 naik 16.71 persen atau 5.915 anak dari total anak 35.397 anak, itu hasil rekap Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (PPGBM),” tutur dr Tan Evi Susanti SpA, saat ditemui di RSUD Kaalisari Batang, Selasa (13/4/ 2021).

Dia menjelaskan, stunting adalah kondisi yang bersifat irreversible atau tidak dapat diperbaiki setelah anak mencapai usia 2 tahun.  

Masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama.

Sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya

“Stunting hanya bisa dicegah sebelum anak berusia 2 tahun, tapi pengertian seperti ini walaupun sudah ada edukasi dan  solusi tetap orang tuanya tidak mau kalau anaknya diperbaiki gizi buruknya dan ini menjadi kendala kita,” jelasnya.

Dengan begitu dia berharap ada kerjasama lintas sektoral untuk mengurangi bahkan menuntaskan angka stunting, bukan hanya di dinas kesehatan saja.

“Strategi penanganan stunting dinas kesehatan bekerjasama dengan lintas sektoral untuk mengaktifkan kembali kelas balita dengan edukasi yang intens dari kader Posyandu dan Puskesmas,” ujarnya.

dr Tan Evi Susanti menambahkan memperbaiki stunting harus diawali dari  pola hidup sehat dan makan-makanan yang bergizi sejak remaja, agar setelah jadi ibu hamil janinnya akan bagus.

“Karena kurangnya edukasi stunting sejak remaja sehingga ketika menjadi ibu hamil bisa kurang energi kalori (KEK) dan bayi lahir prematur,” pungkasnya.(din)

Penulis: dina indriani
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved