Breaking News:

China Pastikan Upaya Membatasi Kemerdekaan Taiwan Bukan Omong Kosong

Latihan perang militer China di Selat Taiwan merupakan tindakan penting menanggapi situasi keamanan dan menjaga kedaulatan nasional.

Republic of China (ROC) Ministry of National Defense via AP
ilustrasi - Dalam foto yang diambil 10 Februari 2020, dan dirilis oleh Republik Pertahanan Tiongkok (ROC) Kementerian Pertahanan Nasional, Angkatan Udara Taiwan F-16 di latar depan terbang di atas sayap Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok (PLAAF) H -6 pembom saat melewati dekat Taiwan. 

TRIBUNJATENG.COM, BEIJING - China mengakui pergerakan militernya di dekat Taiwan pada awal pekan lalu merupakan bentuk latihan perang di tengah peningkatan ketegangan dan intervensi AS.

Juru bicara Kantor Urusan Taiwan di China, Ma Xiaoguang mengatakan, militer mengerahkan 25 pesawat Angkatan Udara, termasuk jet tempur dan pengebom berkapasitas nuklir, ke Selat Taiwan pada Senin (12/4) lalu.

"Latihan perang Tentara Pembebasan Rakyat di Selat Taiwan merupakan tindakan penting untuk menanggapi situasi keamanan terkini di Selat Taiwan dan untuk menjaga kedaulatan nasional," ujar Ma, seperti dikutip Reuters, Rabu (14/4).

Ma menegaskan, China menggelar latihan perang itu untuk menanggapi provokasi Taiwan dan intervensi AS.

"Latihan militer dan operasi latihan ini merupakan sinyal bahwa tekad kami untuk membatasi kemerdekaan Taiwan dan kolusi AS-Taiwan bukan hanya omong kosong," ucapnya.

Sebelumnya, China dengan gamblang juga telah berkata kepada AS untuk berhenti "bermain api" soal Taiwan. Hal itu dilontarkan Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian, pada Selasa (13/4), sebagaimana dilansir Reuters.

Zhao Lijian mengatakan kepada wartawan bahwa mereka telah mengajukan pernyataan tegas kepada AS. “Jangan bermain api atas masalah Taiwan. Segera hentikan segala bentuk kontak resmi AS-Taiwan, tangani masalah tersebut dengan hati-hati dan tepat,” ucapnya.

Ia juga meminta Washington untuk tidak mengirim sinyal yang salah kepada 'pasukan kemerdekaan' Taiwan. “Supaya tidak secara subversif memengaruhi dan merusak hubungan China-AS, serta perdamaian dan stabilitas di seluruh Selat Taiwan,” tambah Zhao.

Dalam tanggapan tertulis tentang pernyataan Blinken yang diberikan kepada Reuters, Kementerian Luar Negeri China mengatakan bahwa Beijing bertekad bulat melindungi kedaulatan negara.

"Jangan berdiri di sisi yang berlawanan dengan 1,4 miliar rakyat China," tambah Kementerian Luar Negeri China

Halaman
12
Editor: Vito
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved