Berita Semarang
Dampak Corona, 2 Kali Ramadhan Pengrajin Rebana di Ambarawa Semarang Sepi Orderan
Kebijakan larangan berkerumun selama pandemi virus Corona (Covid-19) berdampak serius bagi penyedia alat musik tradisional seperti rebana.
Penulis: M Nafiul Haris | Editor: galih permadi
TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN-Kebijakan larangan berkerumun selama pandemi virus Corona (Covid-19) berdampak serius bagi penyedia alat musik tradisional seperti rebana.
Bahkan, masuknya bulan suci Ramadan tidak terjadi peningkatan permintaan konsumen.
Seorang pengrajin rebana asal Ambarawa, Kabupaten Semarang Muhammad Khamim (66) mengatakan sepinya permintaan pembuatan alat musik rebana telah berlangsung sejak Ramadan tahun lalu.
"Jadi pada Ramadan tahun kedua ini juga sama sepi orderan. Ibadah kaum muslim lebih banyak tadarus, tarawih tidak ada kegiatan pentas musik rebana," terangnya kepada Tribunjateng.com, di rumahnya Jalan Sanggrahan Rt 1/Rw 2 Kelurahan Lodoyong, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Kamis (15/4/2021)
Menurut Khamim yang sejak tahun 1994 memproduksi rebana memilih bertahan di tengah pandemi Covid-19 karena amanat orangtua. Dia merupakan generasi kedua sejak awal mula almarhum ayahnya membuat rebana di tahun 1945.
Ia menambahkan, sebelum datangnya pandemi pemesan alat musik rebana banyak datang dari Kabupaten Pemalang, Pekalongan, Batang, Boyolali.
Sedangkan daerah luar Jawa banyak pembeli dari Sumatera, dan Kalimantan.
"Disini melayani pembuatan baru maupun servis. Untuk rebana baru dipatok harga Rp 3-6 juta per set terdiri dari empat terbang, tiga buah bass, dan kentung.
Adapun bahan terbuat dari kayu mahoni dan nangka dengan kulit sapi atau kambing," katanya
Khamim mengaku sebelum adanya Corona dia mempekerjakan sebanyak enam orang. Minimnya orderan pekerja sekarang tersisa tiga orang.
Dia menyatakan dahulu dalam sebulan dapat mengerjakan minimal empat set rebana.
Sejak Corona diakui situasi lebih sulit, pesanan menurun hampir 70 persen.
"Karena ini kan terkait hiburan ada larangan diatas 10 orang tidak boleh.
Pondok pesantren, kampung-kampung juga tidak banyak kegiatan sehingga sepi.
Harga kuliat perbiji dulu dihargai Rp 50 ribu sekarang turun menjadi Rp 30 ribu dari awal Covid-19 masuk Indonesia," ujarnya (ris)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/seorang-pengrajin-rebana-muhammad-khamim-sedang-mengerjakan-pesanan.jpg)