Breaking News:

Tadarus

TADARUS DR H Iman Fadhilah: Bolehkah Puasa Sepanjang Waktu

Masih dalam keterangan Kitab Durratun Nasihin, ada empat golongan yang dirindukan syurga, salah satunya adalah orang yang menjalankan puasa Ramadhan.

Editor: iswidodo
tribunjateng/ist
DR H. Iman Fadhilah, MSi | Wakil Sekretaris PWNU Jawa Tengah 

TRIBUNJATENG.COM - Puasa Ramadhan, termasuk salah satu ibadah yang dinanti oleh umat Islam. Banyak sekali kemuliaan-kemuliaan yang ada di bulan ramadhan, dalam kitab Durratun Nasihin di jelaskan, bahwa beberapa kemuliaan Ramadhan diantaranya adalah bulan Turunnya al-Qur’an, juga Suhuf Ibrahim turun pada bulan Ramadhan, begitupun kitab Injil.

Masih dalam keterangan Kitab Durratun Nasihin, ada empat golongan yang dirindukan syurga, salah satunya adalah orang yang menjalankan puasa Ramadhan. Ada satu kisah diceritakan, seorang laki-laki bernama Muhammad, ketika memasuki bulan Ramadhan, tetiba lelaki ini merubah sikap dan prilakunya, Ia menyambut Ramadhan dengan riang gembira, sukacita, Laki-laki ini memakai wewangian, menggunakan pakaian yang bagus-bagus, melaksanakan sholat dan ibadah, bahkan mengqadha shalat-shalat yang pernah ia tinggalkan. Ketika laki-laki ini wafat, maka seseorang yang bertanya, wahai rojul (laki-laki), apa yang Allah perbuat kepadamu. kemudian ia menjawab, Allah mengampuniku. Kemudian seseorang ini bertanya kembali, dengan alasan apa Allah mengampunimu?Laki-laki tersebut menjawab, karena saat di dunia,saya memuliakan bulan Ramadhan, Masya Allah.

Dari cerita di atas, sebagai umat Islam tentu kita tidak akan menyia-nyiakan bulan Ramadhan. Syukur alhamdulilah, kita masih diberi kesempatan oleh Allah untuk bisa melaksanakan puasa Ramadhan pada tahun ini. Bersyukur, karena diantara kita ada juga yang tidak bisa melaksanakan puasa karena satu dan lain sebab, atau karena memang dibolehkan untuk tidak melaksanakan puasa. Ini yang coba akan kita urai. Siapa saja orang atau kelompok atau golongan yang boleh tidak melaksanakan puasa.

Secara umum, dalam hukum Islam ada tiga golongan yang tidak kena kewajiban taklif, artinya tidak punya kewajiban dalam menjalankan syariat Islam. Tiga golongan tersebut adalah anak kecil, orang gila atau hilang akal dan orang yang lupa. Apakah ini juga termasuk ibadah puasa? jawabannya Ya. Ibadah puasa hukumnya wajib sebagaimana tuntunan Alquran, hanya saja harus difahami, siapa-sapa saja yang wajib melaksanakan dan siapa-siapa saja yang boleh tidak melaksanakan.

Diantara orang yang dibolehkan tidak puasa ramadhan adalah; Pertama, Anak kecil. Kategori ini sudah banyak di jelaskan. Jadi, anak yang belum baligh atau belum dewasa tidak kena kewajiban puasa. Meski begitu, sebagai orang tua dianjurkan agar anak-anak dilatih untuk melaksanakan puasa, meskipun masih bolong-bolong atau belum sepenuhnya sesuai aturan, misalnya kita kenal istilah puasa bedug, puasa yang dilakukan oleh anak-anak sebagai media latihan, karena kemampuannya sampai waktu dhuhur, maka di sebut puasa bedug.

Meski begitu, hukum puasa bagi anak yang belum dewasa sering dikiaskan dengan hukum Sholat. Dalam Alquran diperintahkan agar anak-anak melakukan salat saat umur 7 tahun, artinya orang tua harus sejak dini mengajak dan mengajarkan anak untuk puasa dan sholat serta ibadah lainnya.

Kedua, orang gila. Golongan kedua ini juga tidak kena kewajiban puasa, sebagaimana ibadah yang lain. Karena hilang akal dan hukum Islam tidak berlaku bagi yang hilang akal. Dengan demikian orang gila dibolehkan tidak melaksanakan puasa.

Ketiga, orang Sakit. Siapapun yang mengalami sakit dan kemudian karena puasa, sakitnya bertambah parah, maka menjadi haram puasanya. Artinya, orang yang sakit kategori yang dibolehkan untuk tidak berpuasa, tentunya, dengan beberapa kriteria,diantaranya ada bukti medis, atau penjelasan dokter terkait ini.

Keempat, orang tua. Kategori golongan ini, yakni orang tua yang sangat lemah dan tidak kuasa lagi untuk berpuasa, atau orang sakit yang tidak ada harapan sembuh. Bagi golongan seperti ini, diwajibkan membayar fidyah (denda) dan tidak wajib mengganti dengan puasa. Kelima, Haid dan nifas, bagi perempuan yang haid dan nifas maka tidak wajib berpuasa. Keenam, Hamil dan menyusui. Untuk dua kategori terakhir ini, terjadi prokontra soal kebolehan untuk tidak puasa, akan tetapi secara umum ibu hamil dan menyusui boleh tidak melaksanakan puasa, kecuali, jika memang yang bersangkutan mampu, kuat dan juga tidak membahayakan untuk bayi dan dirinya, maka dipersilahkan puasa. Karena, salah satu prinsip dalam hukum islam adalah, harokah (dinamis) dan melihat sabab musabab serta kemaslahatan.

Ada kelompok atau golongan lain yang juga boleh tidak berpuasa, yakni orang yang dalam perjalanan jauh, meskipun ini juga relative, bisa iya dan juga tidak, artinya qaul yang masyhur boleh tidak puasa dengan beberapa ketentuan dan syarat yang ada dalam fiqh, misalnya jarak yang memenuhi syarat dan tujuan dari safar tersebut. Meskipun, hukum islam juga mempertimbangkan aspek subjek hukum atau yang bersangkutan, kekuatan dan kemampuan, inilah kelenturan hukum islam yang luar biasa. Dalam al qur’an surat al baqoroh ayat 286, di jelaskan “Allah tidak akan memberi beban atau menguji hambanya di luar batas kemampuannya”.

Puasa sepanjang waktu

Selain puasa Ramdhan, ada juga puasa-puasa yang dilakukan oleh umat islam dengan berbagai jenis dan variasinya. Ada puasa nadzar, puasa sunah, dawud, ngrowot dan lain-lain termasuk puasa dahr (puasa sepanjang waktu). Menurut Imam Ghazali dalam kitab Kifayatul Akhyar, menjelaskan bahwa puasa dahr itu disunahkan. Sementara sebagian ulama menjelaskan, jika orang yang berpuasa dahr khawatir akan terjadi bahaya atau takut kehilangan hak atau kewajiban, maka hukumnya makruh, dan apabila tidak khawatir, maka tidak makruh. Pendapat al Baghowi, makruh.

Ada juga puasa-puasa sunnah yang bisa dan biasa dilakukan, misalnya Puasa Senin dan Kamis, dan pada hari-hari bidh. Hari-hari bidh yang dimaksud dalam kitab kifayatul akhyar adalah tanggal 13, 14 dan 15 di setiap bulannya. Sebagian ulama menyebut tanggal 12 termasuk hari bidh. Disunnahkan pula puasa enam hari di Bulan Syawal, disunnahkan puasa tasuu’a (tanggal 9) dan ‘Asyurro (tanggal 10) pada bulan Muharram. Di sunnahkan pula puasa pada hari Arafah, bagi selain orang yang melaksanakan ibadah haji.

Alla kulli hal, puasa Ramadan adalah salah satu instrument ibadah, oleh karenanya perlu diperkuat dengan pengetahuan-pengetahuan yang terkait, jangan sampai, jangan sampai ibadah-ibadah kita tidak di bekali ‘ilmu, seolah kita melaksanakan syari’at akan tetapi, justru hal yang di larang yang kita lakukan, keyakinan kepada Allah harus diperkuat dengan ‘ilmu dan pengetahuan untuk mengimplementasikan keyakinan tersebut, agar kita menjadi umat yang sholeh secara vertikal maupun horisontal, agar puasa dan ibadah-ibadah lain yang kita lakukan menjadi puasa dan ibadah yang sejuk mendamaikan serta memberi maslahat baik bagi diri pribadi, masyarakat bangsa maupun Negara. Wallahu a’lam. (*)
Ditulis oleh DR H. Iman Fadhilah, MSi | Wakil Sekretaris PWNU Jawa Tengah

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved