Senin, 13 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Opini

OPINI DR Agung Sudarmanto: Patung Ki Nartosabdo dan Kebangkitan Budaya

Di persimpangan jalan Pemuda-Johar Semarang 30 Maret 2021 diresmikan patung Ki Nartosabdo, seorang seniman musik dan dalang wayang kulit legendaris

Editor: iswidodo
tribunjateng/ist
Agung Sudarmanto Ketua Lembaga Kebudayaan Nasional Kota Semarang 

Ditulis oleh DR Agung Sudarmanto, MM, Ketua Lembaga Kebudayaan Nasional Kota Semarang

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Di persimpangan jalan Pemuda-Johar Semarang 30 Maret 2021 diresmikan patung Ki Nartosabdo, seorang seniman musik dan dalang wayang kulit legendaris Jawa Tengah. Ki Nartosabdo, lahir di Klaten 25 Agustus 1925 dan meninggal di Semarang 7 Oktober 1985.
Keberadaan patung ini selain sebagai wujud penghargaan atas jasa besar beliau mengharumkan kota Semarang dengan karya – karya seninya yang monumental. Keberadaan patung Nartosabdo diharapkan dapat menjadi penanda atau pengingat yang mampu menggambarkan peristwa sejarah budaya masa lalu di kota Semarang. Dan juga dapat membangkitkan memori kolektif masyarakat bahwa pernah memiliki seorang seniman legendaris dalam dunia karawitan maupun pedalangan.
Bagi generasi yang lahir belakangan, yang tidak “menangi” (jawa) sepak terjang sosok Ki Nartosabdo dalam hal kesenian dan kebudayaan, tentunya patung Ki Nartosabdo akan kurang dipahaminya baik dari sisi makna, fungsi maupun riwayatnya. Untuk itu menyusulkan narasi seputar sosok Ki Nartosabdo menjadi pekerjaan rumah yang mendesak agar patung yang telah diresmikan itu memberikan nilai tambah bagi kota dan masyarakat, tidak sekedar dimaknai sebagai pantung pengisi ruang strategis kota Semarang
Sosok Ki Nartosabdo
Rembug tentang Ki Nartosabdo, budayawan Umar Kayam dalam tulisan Ngesti Pandowo : Suatu Persoalan Kitch di Negara Berkembang dalam buku Seni Dalam Masyarakat Indonesia : Bunga Rampai melukiskan bahwa “….. Ki Nartosabdo adalah pemimpin karawitan Ngesti Pandawa yang kreatif.
Di bawah kepemimpinannya salah satu daya tarik Wayang Orang ini adalah orkestrasi yang sangat kaya dan memukau. Berpuluh lagu serta aransemennya mengalir dari daya kreasi seniman ini. Semua kemudian menjadi hits karena memang lagu – lagu itu enak melodinya serta popular semangatnya. Permainan kendangnya juga merupakan suatu atraksi tersendiri yang unik. Beberapa kendang serta bedug yang mengelilinginya akan disentaknya dengan penuh gusto hingga dia mendapat julukan sebagai Gene Kruppa Jawa pada waktu itu”. (!983)
Demikian juga, terdapat ratusan lagu yang digarap Ki Nartosabdo bersama grup karawitan Condong Raosnya, seperti lagu Prau Layar, Caping Gunung, Aja Dipleroki, Gambang Suling, Rujak jeruk, Lesung Jumengglung masih dikenal masyarakat hijngga saat ini meski banyak juga hapal lagunya namun yang tidak tahu siapa penciptanya
Dari catatan perjalanan sejarah kejayaan Ngesti Pandowo di masa lalu, paling tidak terdapat 2 (dua) nama yang menonjol “membesarkan” Ngesti Pandawa, yakni Ki Sastro Sabdho dan .Ki Narto Sabdo. Ketokohan Sastro Sabdho bukan karena perannya sebagai Petruk yang tidak tergantikan, akan tetapi karena kehandalannya sebagai sutradara dan pimpinan produksi, baik dari segi leadership juga greget kreativitasnya.
Sepeninggal Ki Sastro sabdho diteruskan Ki Nartosabdo yang juga melegenda seperti yang dilukiskan Umar Kayam di atas. Dengan demikian antara Ki Sastro Sabdho, Ki Nartosabdo dengan Ngesti Pandowo bisa dikatakan seperti “mimi lan mintuno”.
Kebangkitan Budaya
Penempatan Patung Ki Nartosabdo di lokasi strategis tentunya dimaksudkan agar patung tersebut akan menjadi sebuah karya yang berhasil sesuai yang diharapkan kita semua. Sebuah karya dapat dikatakan berhasil, menurut Pius P Wibowo dalam “Patung dan Perkembangan Mutakhirnya”, adalah apabila karya tersebut dapat mengubah ruang fisik dan psikis manusia serta lingkungannya, sehingga mampu menghadirkan nilai – nilai yang baru (2015). Dan, mudah – mudahan keberadaan patung tersebut juga mampu menggairahkan dan membangkitkan kesenian dan kebudayaan khususnya di Kota Semarang.
Jikalau dihubungkan antara momentum peresmian patung Ki Nartosabdo 30 Maret 2021 dengan Wayang Orang Ngesti Pandawa yang pada tanggal 6 Juli 2021 genap berulang tahun yang ke 84, akankah terjadi kebangkitan budaya dan kesenian di Semarang ? Semoga dan sejarah kebudayaan yang akan mencatatnya.
Momentum yang langka terjadi ini dapat dioptimalkan dampak positipnya, baik oleh pemangku kebijakan maupun para pelaku seni Kota Semarang. Banyak hal yang bisa dilakukan, antara lain diadakan diskusi seni budaya atau sejarah tentang Ki Nartosabdo dan Ngesti Pandowo dengan melibatkan pelaku seni dan akademisi. Membuat museum yang berisi karya-karya Ki Nartosabdo baik tentang karya gendhing maupun lakon wayang yang didalanginya. Melakukan kajian revitalisasi Ngesti Pandawa, dan juga tempat kesenian lain seperti Sobokartti sehingga venue – venue kesenian tradisi tersebut dapat diperhitungkan di panggung nasional maupun internasional.
Semoga momentum peresmian patung Ki Narto Sabdho akan mampu menggerakkan roda - roda kebudayaan dan kesenian, khususnya budaya Jawa di Kota Semarang. Jangan biarkan Patung Ki Nartosabdo yang megah itu bertengger kesepian di tengah huruk pikuknya kota Semarang Hebat, yang hanya dianggap sebagai patung yang tak mampu membangikitan memori kolektif sejarah budaya warga kota. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved