Breaking News:

Ngopi Pagi

FOKUS: Mudik Lokal

Idulfitri tahun ini, agaknya, bakal menjadi Lebaran kedua yang “sepi”. Pandemi Covid-19 yang belum pergi dari Tanah Air, menjadi salah satu pemicunya.

tribunjateng/bram
Achiar Permana wartawan tribun jateng 

Tajuk ditulis oleh Wartawan Tribun Jateng, Achiar M Permana

TRIBUNJATENG.COM - Idulfitri tahun ini, agaknya, bakal menjadi Lebaran kedua yang “sepi”. Pandemi Covid-19 yang belum pergi dari Tanah Air, menjadi salah satu pemicunya.

Tahun lalu, Idulfitri berlangsung dalam suasana tidak biasa. Sepi. Tidak banyak orang yang bersilaturahmi, lazimnya hari raya. Saat itu, pandemi Covid-19 sedang bergerak menuju puncak. Setiap kampung marak pemortalan atau penutupan akses masuk dengan portal, yang terkunci.

Pada tahun ini, sebenarnya kasus Covid-19 tengah menunjukkan tren melandai. Angka pertambahan kasus harian memang masih cukup tinggi, yakni di kisaran 5.000-an kasus per hari. Akan tetapi jika dibandingkan dengan dua bulan sebelumnya, saat Covid-19 benar-benar menggila di Indonesia, angka saat ini terbilang agak melegakan. Pada awal Februari 2021, angka kasus Covid-19 pernah mencapai puncak dengan rata-rata pada belasan ribu kasus per hari.

Di tengah tren kasus Covid-19 yang cenderung menurun, Presiden Joko Widodo mengeluarkan kebijakan yang agak mengagetkan, terutama bagi warga yang tengah menyambut Idulfitri. Jokowi melarang warga mudik pada Lebaran tahun ini.

"Ramadan tahun ini adalah Ramadan kedua di tengah Covid-19 dan kita masih harus tetap mencegah penyebaraan wabah Covid untuk tidak lebih meluas lagi. Untuk itu, sejak jauh-jauh hari pemerintah telah memutuskan untuk melarang mudik Lebaran tahun ini," ujar Jokowi dalam keterangan pers di Youtube Sekretariat Presiden, Jumat, 16 April 2021.

Selama sebelas hari, pada 6-17 Mei 2021, merintah resmi melarang masyarakat untuk melakukan mudik Lebaran demi mencegah penularan virus corona Covid-19. Larangan itu tertuang dalam Surat Edaran Kepala Satgas Penanganan Covid-19 Nomor 13 Tahun 2021 tentang Peniadaan Mudik pada Bulan Ramadan dan Hari Raya Idulfitri 1442 Hijriah.

“Celakanya, banyak orang yang memaknai: segera klayapan sebelum 6 Mei,” tiba-tiba Dawir, sedulur batin saya, nyeletuk dari balik tengkuk.

Untunglah, kemudian ada penjelasan yang lebih teknis mengenai diperbolehkannya pergerakan kendaraan, meski dengan sejumlah pembatasan. Pemerintah menetapkan sejumlah wilayah aglomerasi yang mendapatkan pengecualian pergerakan kendaraan. Wilayah aglomerasi adalah beberapa kabupaten/kota yang berdekatan yang mendapat izin melakukan pergerakan. Di wilayah aglomerasi itu, warga masih bisa “mudik lokal”.

Terdapat delapan wilayah aglomerasi. Jawa Tengah masuk wilayah 4, yang meliputi Semarang, Kendal, Demak, Ungaran, dan Purwodadi.

"Di dalam wilayah aglomerasi, pergerakan masyarakat dan transportasi masih dibolehkan dengan pembatasan kapasitas, frekuensi, dan jam operasional," ujar Juru Bicara Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Adita Irawati, seperti dilansir Kompas.com, Kamis (15/4/2021).

Tentang pelarangan mudik, mestinya kita bisa memahami maksud baik pemerintah. Tanpa upaya –meminjam istilah yang sempat ramai pasca-Pilpres 2019--yang terstruktur, sistematis, dan masif (TSM), agaknya kita akan sulit keluar dari taun bernama Covid-19. Upaya-upaya itu memerlukan dukungan semua pihak, termasuk masyarakat, demi efektivitas hasilnya.

“Sampean itu yang masih suka klayapan. Kadhang-kadhang ya lali maskeran barang,” Dawir nyampluk lagi. (*)

Penulis: achiar m permana
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved