Breaking News:

Ngopi Pagi

FOKUS: Masih Berani Sama Corona?

Sudah setahun lebih wabah virus corona menghiasi kehidupan kita sehari-hari. Bahkan dua kali Lebaran ini pemerintah memutuskan untuk melarang mudik.

tribunjateng/grafis/bram
Wartawan Tribun Jateng, Galih Permadi 

Tajuk ditulis oleh Wartawan Tribun Jateng, Galih Permadi

TRIBUNJATENG.COM - Sudah setahun lebih wabah virus corona menghiasi kehidupan kita sehari-hari. Bahkan dua kali Lebaran ini pemerintah memutuskan untuk melarang mudik.

Kabar ganasnya corona hingga merenggut nyawa tersebar di timeline media sosial saya. Seorang teman mengabarkan jika temannya meninggal dunia seusai pulang dari Jakarta. Kedua orang tua dan satu karyawannya pun juga menjadi korban meninggal gegara Corona.

Terbaru, tiga orang guru di SMA Negeri 1 Gondang Sragen meninggal dunia akibat Corona. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sragen, Hargiyanto mengatakan, dari hasil tracing yang dilakukan, penularan Covid-19 di SMAN 1 Gondang diduga berasal dari salah seorang guru yang menghadiri hajatan ke luar kota.

Selain itu, ada sembilan guru dan karyawan SMAN 1 Gondang yang juga tertular virus corona. Dua orang di antaranya meninggal.

Menurut penyintas corona yang saya temui, ia tertular antara ibu dan kakaknya. Dalam lingkungan satu keluarga ada sembilan yang dinyatakan positif corona termasuk dirinya. Namun hanya empat orang yang memiliki gejala.

Salah satu anggota keluarga yang mengalami gejala sempat menjalani rapid test antigen sebanyak dua kali. Hasilnya, negatif. “Namun ketika dilakukan PCR pihak puskesmas saat tracing hasilnya positif,” ujarnya.

Gejala yang dialami, menurut dia, berupa demam, tenggorokan kering, panas dalam, lemas, dan nafas pendek-pendek. “Tenaga seperti dilorot. Beda sama flu biasa. Kalau flu biasa minum obat udah merasakan enakan, ini enggak. Dan anosmia benar-benar saya rasakan. Ngga bisa membau dan merasakan makanan yang masuk ke mulut,” ujarnya.

Ia sempat menjalani isolasi mandiri di rumah selama empat hari. Namun karena saturasi oksigen dalam darah berada di bawah 95 persen, maka harus opname selama 5 hari di rumah sakit. “Rasanya lebih nyaman tiduran terus. Karena lemas sekali,” ujarnya.

Ia menyarankan jika tubuh benar-benar lemas, sebaiknya segera memeriksakan diri ke rumah sakit. “Mungkin ini salah satu penyebab ada pasien corona yang meninggal. Tidak mau ke rumah sakit meski kondisi memburuk. Corona benar-benar nyata,” ujarnya.

WHO menyarankan pasien Covid-19 yang isolasi mandiri di rumah memiliki oximeter. Juru bicara WHO, Margaret Harris mengatakan, dengan memiliki oximeter di rumah, pasien dapat mengukur kadar oksigen secara mandiri.

"Sehingga, Anda dapat mengidentifikasi apakah saat (isolasi mandiri) di rumah, kesehatan memburuk atau lebih baik dirawat di rumah sakit," jelas Harris dalam pengarahan PBB di Jenewa seperti dilansir Reuters, beberapa waktu lalu.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Primaya Hospital Bekasi Utara, dr M Irfan SpPD mengatakan pada orang yang normal atau dalam kondisi sehat, maka angka batas minimal saturasi oksigen seseorang adalah 95%. Sehingga normalnya akan berada di kisaran angka 95-100%. "Kalau orang yang sehat itu biasanya angkanya sekitar 98 sampai 100% di oximeter. Karena itu jika terinfeksi Covid-19, sangat penting memiliki oksimetri di rumah," kata Irfan kepada Kompas.com, beberapa waktu lalu.

Ya, ternyata corona benar-benar nyata. Langkah pemerintah melarang mudik untuk kedua kalinya dirasa tepat. Dua kali rapid test antigen hasil negatif bukan menjadi jaminan di tubuh kita tidak ada corona. Begitu juga di tubuh yang dirasa prima belum tentu tidak terjangkit corona. Masih berani mudik dan resiko menularkan keluarga di kampung halaman? Masih berani sama corona? (*)

Penulis: galih permadi
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved