Breaking News:

Kebrutalan Junta Militer Sebabkan Hampir 250 Ribu Orang di Myanmar Mengungsi

Hampir 250.000 orang di Myanmar mengungsi sebagai akibat kebrutalan junta militer yang menindak penentang kudeta.

SELEBARAN/AFP/FACEBOOK
Foto yang diambil dan diterima dari sumber anonim melalui Facebook menunjukkan pengunjuk rasa mengadakan aksi protes dengan menyalakan lilin terhadap kudeta militer di Mogok, divisi Mandalay, Myanmar, pada Senin (11/4/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, NAY PYI TAW - Hampir 250.000 orang di Myanmar mengungsi sebagai akibat kebrutalan junta militer yang menindak penentang kudeta.

Selain 738 korban tewas, kelompok pemantau lokal menuturkan, ada sekitar 3.300 orang lainnya ditahan sejak demonstrasi bergulir.

Kengerian itu juga disikapi Pelapor Khusus PBB untuk Situasi di Myanmar, Tom Andrews dalam kicauannya di Twitter.

"Serangan junta militer sudah menyebabkan hampir 250.000 orang mengungsi, berdasarkan sumber kami," katanya.

Ia pun menyerukan supaya komunitas internasional bergerak cepat dan mendinginkan bencana kemanusiaan di negara Asia Tenggara tersebut.

LSM Free Burma Rangers menerangkan, setidaknya 24.000 orang menyingkir dari Negara Bagian Karen. Dilansir AFP Rabu (21/4), hal itu disebabkan junta mengerahkan serangan udara dan darat pada awal April.

Juru bicara brigade lima Karen National Union, Padoh Mann Mann menyebut, ada 2.000 orang yang pergi ke perbatasan Thailand. Sisanya berusaha menyembunyikan diri. "Mereka melarikan diri ke hutan yang terletak dekat desa mereka," ucapnya. 

Adapun, pemimpin kudeta Myanmar, Panglima Jenderal Senior Min Aung Hlaing, dikabarkan akan pergi ke Jakarta untuk menghadiri pertemuan pemimpin negara ASEAN terkait dengan situasi di negaranya pasca-kudeta.

Menurut sumber diplomat, fokus pertemuan ASEAN Leaders Meeting adalah mengajak militer Myanmar atau Tatmadaw berdialog dan menyerukan penghentian kekerasan terhadap warga sipil.

Para sumber yang mengetahui rapat ASEAN itu mengungkapan, pertemuan akan fokus membujuk junta militer Myanmar untuk menghentikan kekerasan terhadap warga sipil.

Sumber tersebut menyebut, pertemuan pemimpin ASEAN pada akhir pekan ini akan berlangsung sangat berat, karena masih terdapat perbedaan pandangan antara masing-masing negara blok tersebut dalam melihat situasi di Myanmar.

Selain itu, KTT ASEAN Sabtu ini juga kemungkinan besar tidak akan dihadiri seluruh pemimpin negara.

Sejumlah negara seperti Thailand sudah mengumumkan bahwa wakil perdana menteri sekaligus menteri luar negerinya, Don Pramudwinai, akan mewakili PM Prayut Chan-O-Cha dalam pertemuan di Jakarta.

Prayut mengatakan, beberapa negara ASEAN lain juga hanya akan mengutus menteri luar negerinya untuk menghadiri pertemuan khusus Sabtu ini.

Meski begitu, hingga kini, Sekretariat ASEAN belum mengungkap daftar pemimpin negara yang akan hadir dalam pertemuan perdana pemimpin blok Asia Tenggara itu. (Kompas.com/cnn)

Editor: Vito
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved