Breaking News:

Berita Jateng

Kontroversi Hilangnya Pendidikan Pancasila dan Bahasa Indonesia, Ini Kata Wakil Ketua Komisi X DPR

Hilangnya Pancasila dan Bahasa Indonesia sebagai mata pelajaran dan kuliah wajib di perguruan tinggi, yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah.

Istimewa
Para narasumber diskusi terkait mata pelajaran atau kuliah Pancasila dan Bahasa Indonesia yang hilang dalam PP tentang Standar Nasional Pendidikan 

"Kasus lain ketika ada anak melakukan pelanggaran dengan menerobos lampu lalu lintas, mereka seolah-olah bangga jika berurusan dengan hukum. Ini tata nilai yang harus diubah. Dan harus diterapkan sejak dini di pendidikan dasar," jelasnya.

Ia berharap produk yang berkaitan dengan penyusunan kurikulum harus didiskusikan dengan berbagai pihak. Jangan sampai, kegaduhan terjadi.

Sementara, peserta diskusi yang merupakan mantan Ketua PWNU Jawa Tengah, KH Muhammad Adnan mengemukakan pendapat bahwa ada sejumlah kemungkinan terkait hilangnya frasa Pancasila.

"Pertama, bisa saja itu untuk test case ketika dihilangkan, respons warga seperti apa. Tentu kami NU akan teriak, NU dari dulu Pancasila," ucapnya.

Dugaan lain yakni memang ada oknum radikal yang sengaja menghilangkannya. Oknum yang dimaksud yakni yang ada di dalam Kemendikbud.

"Karena ada orang yang menilai Pancasila itu musuh bagi yang tidak bertuhan dan merasa paling bertuhan. Karena orang yang merasa paling bertuhan tidak menganggap Pancasila itu ada," katanya.

Ia menyoroti, untuk membumikan Pancasila, di lembaga pendidikan, yang harus dipegang terlebih dahulu yakni para tenaga pengajarnya atau guru. Jangan sampai mata pelajaran Pancasila dipegang oleh guru yang tidak ber-Pancasila.

"Ada guru yang 10 menit mengajarkan Pancasila dan 140 menit sisanya membunuh Pancasila. Kuncinya ada pada guru-guru," imbuhnya.

Dalam diskusi tersebut juga dihadiri secara virtual Sekretaris Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud, Prof Nunuk Suryani; Wakil Rektor 1 Universitas Diponegoro, Prof Budi Setiyono; pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Undip, Prof Iriyanto Widisuseno; dan Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang (Unnes), Dr Moh Solehatul Mustofa.(mam)

Penulis: mamdukh adi priyanto
Editor: rival al manaf
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved