Breaking News:

Berita Kendal

Puslitarkenas Gali Dua Lokasi Temuan Candi di Rowosari Kendal

Tim Puslitarkenas Kemendikbud lakukan penggalian 2 lokasi yang ditemukan candi di Dusun Boto, Kendal.

TRIBUNJATENG/SAIFUL MA'SUM
Penggalian temuan candi di Dusun Boto Tumpang Desa Karangsari Kecamatan Rowosari Kendal, Rabu (21/4/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, KENDAL - Tim Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslitark

Penggalian temuan candi di Dusun Boto Tumpang Desa Karangsari Kecamatan Rowosari Kendal, Rabu (21/4/2021).
Penggalian temuan candi di Dusun Boto Tumpang Desa Karangsari Kecamatan Rowosari Kendal, Rabu (21/4/2021). (TRIBUNJATENG/SAIFUL MA'SUM)

enas) pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melakukan penggalian dua lokasi yang ditemukan candi di Dusun Boto Tumpang Desa Karangsari, Kecamatan Rowosari, Kendal. Bangunan candi tersebut terpendam dalam tanah di pekarangan warga yang diduga merupakan bangunan peninggalan Hindu-Budha era 630 Masehi atau abad ke-7 sebelum Kerajaan Mataram Kuno.

Ketua tim penelitian Puslitarkenas, Agustijanto Indrajaja mengatakan, kedua candi tersebut ditemukan pada 2018 lalu. Saat itu, pihaknya melakukan pencarian dan penelitian peninggalan Hindu-Budha di sepanjang pantai utara Jawa Tengah dari Kabupaten Brebes hingga Rembang.

"Berdasarkan tema besar itu, kami ingin tahu bagaimana pengaruh Hindu-Budha di Jateng. Caranya survei dan menentukan beberapa lokasi yang diduga kuat terdapat peningggalan budaya. Pada 2018 mulai masuk di Kendal dan menemukan dua lokasi berjarak 200 meter," terangnya, Rabu (21/4/2021).

Kata Agustijanto, di salah satu titik, bagunan candi berupa tumpukan batu bata (boto tumpang) dengan luas perkiraan 24x24 meter persegi dan ketinggian mencapai 3-4 meter mulai digali pada 2019. Penggalian sempat terhenti pada 2020 karena terdampak pandemi Covid-19. Sehingga diteruskan pada 2021 mulai 7-26 April. 

Agustijanto menjelaskan, awal mula penemuan titik lokasi candi diperkirakan seluas 12x12 meter persegi. Setelah dilakukan penggalian hingga sampai ke lantai candi menjadi lebar dua kali lipat. 

"Bentuk candi ada tangga masuk, ketinggian dari lantai hampir 3 meter. Karena di bagian pesisir pantai kebanyakan candi berupa boto tumpang," ujarnya. 

Ia menjelaskan, candi boto tumpang hingga kini masih dalam tahap observasi. Diperkirakan bangunan sejarah itu ada pada tahun 630 masehi atau abad ke-7 sebelum Kerajaan Mataram Kuno. 

Namun, hingga kini belum ditemukan beberapa ikon petunjuk seperti archa atau prasasti yang digunakan pada masanya untuk memperkirakan kepercayaan yang dianut masyarakat sekitar candi.

"Kalau dilihat profilnya, ada bangunan setengah lingkaran yang mirip dengan candi Batujaya Karawang yang sudah diteliti pada 2000. Dimungkinkan sama yaitu abad ke-6 atau 7 sudah ada Kerajaan Keling (Kalingga) dengan Ratu Shima," terangnya.

Halaman
12
Penulis: Saiful Ma'sum
Editor: sujarwo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved