Kamis, 23 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Video

Video Menelusuri Jejak Kiai Sholeh Darat Ulama Besar di Semarang

Jejak ulama penting dalam penyiaran islam Nusantara asal Semarang yakni Kiai Sholeh Darat.

Penulis: iwan Arifianto | Editor: abduh imanulhaq

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Berikut ini video menelusuri jejak Kiai Sholeh Darat ulama besar di Semarang.

Jejak ulama penting dalam penyiaran islam Nusantara asal Semarang yakni Kiai Sholeh Darat dengan nama asli KH Muhammad Sholeh Darat bin Umar As-Samarani dapat diikuti jejaknya di Museum Perkembangan Islam Jawa Tengah di kompleks Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Kota Semarang. 

Di tempat tersebut masih menyimpan karya tersohor Kiai Sholeh Darat

tepatnya dua manuskrip kitab

Kedua kitab tersebut meliputi Kitab Jauharotut Tauhid yang selesai tulis sang kiai pada 1315 H. Kitab itu diperoleh pihak museum dari Kiai Nurudin Fauzan asal Tersono Batang. 

Kemudian Kitab Sabilul Abid yang dipajang dengan minim referensi. 

Humas MAJT Benny Arief Hidayat mengatakan, Museum Perkembangan Islam Jawa Tengah menyimpan beragam karya ulama besar khususnya di Jateng. 

Karya Kiai Sholeh darat di antaranya yang menjadi unsur penting dalam perkembangan Islam di Jawa bahkan nusantara. 

"Ada dua karya Kiai Sholeh Darat yang kami simpan dengan usia memang ratusan tahun," terangnya kepada Tribunjateng.com, Senin (19/4/2021).

Dia menjelaskan, kedua kitab Kiai Sholeh Darat yang ada di MAJT berfokus mengajar kepada ketauhidan. 

"Setahu saya hanya itu namun terkait sejarah Kiai Sholeh darat tak berani menjelaskan lebih detail lantaran ada pihak yang lebih tahu," terangnya. 

Menurutnya, tak hanya Kiai Sholeh Darat melainkan ada peninggalan beberapa kitab karangan ulama tersohor di Jateng. Seperti kitab karangan Kiai Ahmad Rifai asal Batang, dan ulama lainnya. Terdapat juga cerita babat jawa dan layang Jati Kusumo.

Total ada lebih 20an kitab namun hanya beberapa saja yang ditampilkan di museum tersebut. 

"Kitab itu diperoleh berkat kerja keras tim tujuh terdiri dari para ahli yang bertugas mencari, menemukan,mengumpulkan karya para Kiai," paparnya. 

Dia menjelaskan, kondisi kitab yang telah berumur ratusan tahun tersebut kondisinya masih bagus dan selalu rutin dirawat. 

Mengingat, koleksi tersebut merupakan manuskrip kuno yang menjadi sumber rujukan utama.

Beberapa kitab di museum yang diresmikan pada 2006 itu tetap dilestarikan sebagai sarana masyarakat dalam mengembangkan pendidikan dan meningkatkan kecintaan terhadap sejarah dan peninggalan ulama di Jawa Tengah.

"Literasi ini sangat penting untuk selalu kami gaungkan baik itu pengetahuan agama maupun pengetahuan yang lainya," terangnya.

Tribunjateng.com selanjutnya menelusuri jejak Kiai Sholeh Darat ke peninggalan lainnya berupa Masjid Kiai Sholeh Darat yang berlokasi di Jalan Kakap Nomor 212, Dadapsari, Semarang Utara, Kota Semarang.

Ketua Takmir Masjid Kiai Soleh Darat, Chomsin Basri menjelaskan, jejak ulama besar Kiai Sholeh Darat memang masih dapat ditemukan di kompleks Masjid tersebut. 

Di antaranya makam petilasan sang Kiai, kitab, dan kentongan asli Masjid Kiai Sholeh Darat

"Peninggalan tersebut masih tersimpan baik hingga sekarang," jelasnya. 

Dia menyebut, Nama asli KH Muhammad Sholeh Darat bin Umar As-Samarani dan lebih dikenal sebagai Kiai Sholeh Darat

Kiai Sholeh Darat lahir di Kedung Jumbleng, Mayong, Kabupaten Jepara sekira tahun 1820.

Beliau anak dari seorang Pejuang KH Umar, ulama seperjuangan dengan Pangeran Diponegoro.

Berbeda dengan Ayahnya yang berjuang di medan laga, Kiai Sholeh Darat memilih berjuang lewat perjuangan literasi dengan menerbitkan karya-karya untuk mencerdaskan kaum pribumi. 

"Mbah Sholeh menerbitkan karya berbahasa Jawa tulisan arab pegon tujuanya untuk mudah dipahami kaum pribumi agar mengerti tatanan dan syariat Islam sehingga menolak gaya penjajahan," tuturnya. 

Dia menjelaskan, Sholeh muda belajar ke Makkah, di sana berguru dengan ulama besar di antaranya Syaikh Muhammad Almarqi, Syaikh Muhammad Sulaiman Hasballah, Syaikh Sayid Muhammad Zein Dahlan, dan lainnya. 

Sholeh darat tokoh besar Islam seangkatan dengan Syaikh Muhammad Nawani Al Jawi Al Bantani dan Kiai Kholil bin Abdul Latief atau Mbah Kholil Bangkalan.

Kiai Sholeh sempat hidup nyaman di sana lantaran sudah dapat mengajar di Makkah. 

Namun Kiai Sholeh akhirnya memilih pulang ke Nusantara. 

Kiai Sholeh mengajar di Pondok Pesantren Darat milik sang mertua, KH Murtadlo di Kampung Darat yang kini bernama Dadapsari, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang. 

Sebutan Darat yang disematkan  berasal dari masyarakat yang merujuk pada tempat tinggalnya.

Kiprah Kiai Sholeh semakin moncer dengan perkembangan pesat pondok pesantrennya. 

Santri dari penjuru nusantara datang untuk belajar Ngaji ke Kiai Sholeh. 

Sejumlah nama ulama besar pernah nyantri di pondok tersebut. 

Di antaranya pendiri NU KH Hasyim Asy'ari , pendiri Muhamadiyah KH Ahmad Dahlan, KH Munawir, KH Mahfudz  Kiai Amir Pekalongan yang selanjutnya menjadi menantu Kiai Sholeh Darat, dan pejuang emansipasi wanita Indonesia RA Kartini. 

Khusus RA Kartini tidak mondok di situ, cerita Kartini Ngaji ke Kiai Sholeh lantaran sering diundang orangtua Kartini memberikan pengajian di Pendopo dari situlah cocok dengan gaya dakwah sang kiai sehingga  Kartini memilih mengaji secara pribadi ke Kiai. 

"Ajaran ayat-ayat dari Mbah Sholeh kepada Kartini menginspirasinya membuat buku Habis Gelap Terbitlah Terang berasal dari ajaran ayat suci yang disampaikan Mbah Sholeh Dari Kegelapan Menuju Terang," ujarnya. 

Dia mengungkapkan, masih menyimpan satu kitab peninggalan Kiai Sholeh Darat berupa Majemuk Syariah yang menyampaikan hukum-hukum Islam. 

Kitab tersebut masih tersimpan rapi dengan kondisi baik. 

Ciri-ciri karya Kyai Sholeh Darat ada tulisan warna merah di tiap halaman. 

Maksut tanda merah sebagai penekanan, penegasan maupun koreksi dari tiap pembahasan di halaman tersebut. 

Total ada sekira 39 karya Kiai Sholeh namun sudah tersebar entah kemana lantaran beliau hobi memberikan kitab-kitab karyanya kepada para murid. 

"Keluarga Mbah Sholeh darat  atau Lukman Hakim Saktiawan, cicit Kiai Sholeh Darat atau Gus Lukman mempercayakan  saya untuk menyimpannya," terangnya. 

Dalam perjalanannya, ajaran sang kiai sempat tak populer lagi dan namanya kian redup. 

Chomsin menilai, hal itu lantaran berasal dari faktor internal keluarga keturunan sang kiai yang ada perpecahan internal. 

Namun dia urung menyebut detail persoalan tersebut. 

Selanjutnya, cicit sang kiai, yang tak lain adalah putra KH Ali Cholil mendeklarasikan diri untuk kembali ke ajaran kiai Sholeh Darat. 

"Saya tidak akan mengikuti ajaran bapak tapi saya akan mengikuti ajarannya Mbah Sholeh," terang Chomsin Basri menirukan Gus Lukman.

Upaya kembali ke ajaran sang kiai adalah dengan menata kepengurusan masjid. 

Dia mengatakan, semangat dan perjuangan Kiai Sholeh Darat dihidupkan lagi. 

Beragam aktivitas khas Kiai Sholeh Darat rutin dilakukan seperti pengajian rutin dan kajian kitab seperti kajian kitab majemuk syariah dan amalan Burdah. 

Kegiatan membedah kitab-kitab karya Kiai Sholeh Darat diaktifkan kembali. 

Petilasan makam Kiai Darat di samping Masjid di tata, haul atau peringatan wafat sang kiai pada 10 Syawal (tepatnya 18 Desember 1903) kembali diselenggarakan. 

Lokasi makam tepatnya berada di sisi selatan Masjid dengan bangunan sederhana. 

Kondisi makam kini sudah berupa bangunan permanen luas sekira 6 meter x 6 meter dengan dominasi cat warna putih. 

Sebelum Pandemi Covid-19,Masjid selalu ramai dikunjungi petakziah. 

Rombongan petakziah berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. 

Bahkan pernah satu kali rombongan peziarah ada 15 bus dengan ratusan jemaah. 

"Hal itu menunjukan pamor Kiai Sholeh Darat memang hidup di masyarakat Islam Nusantara," terangnya. 

Meski aktivitas di Majid peninggalan Kiai Sholeh kembali menggeliat. 

Takmir Masjid tak memanfaatkan hal itu secara ekonomi. 

Ribuan peziarah yang datang dipersilahkan saja tanpa dipungut biaya apapun. 

"Sebenarnya di samping Masjid itu hanya petilasan. Makam aslinya disebut ada di Bergota Semarang. 

Namun para peziarah lebih suka datang ke sini alasannya fasilitas lebih memadai seperti tempat parkir, Masjid, dan lainnya," paparnya.

Menurut Chomsin, pihak keluarga memang mencoba menyusun kembali peninggalan-peninggalan Kiai Sholeh Darat

Mulai dari menemukan foto sosok Kiai dan mengumpulkan kitab-kitab karyanya. 

Terkait foto pihak keluarga memang sudah tak menemukannya lagi. 

Dia juga sempat meminta tolong kepada temannya saat berada di Belanda untuk mencari foto Kiai Sholeh Darat pada 2019 lalu. 

"Hasilnya nihil padahal foto ulama seangkatan beliau atau ulama lainnya ada di museum-museum Belanda," terangnya. 

Selanjutnya terkait Karya, dia meminta kepada semua pihak yang masih memiliki kitab karya Kiai Sholeh Darat kalau ada  keikhlasan atau kerelaan hati untuk menyerahkan kitab tersebut ke Masjid Kiai Sholeh Darat

"Kami memang kesulitan melacaknya sehingga mungkin dari pihak yang merasa memilikinya untuk menyerahkan ke pihak Masjid sebagai upaya melestarikan karya Mbah Sholeh," tandasnya. (*)

TONTON JUGA DAN SUBSCRIBE :

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved