Breaking News:

Berita Semarang

Hasto Jalani Puasa Sampai 18,5 Jam, Cerita Pengalaman Puasa Umat Muslim Indonesia di Negara Lain

Lamanya puasa Ramadan yang dijalani setiap umat muslim di berbagai belahan dunia tidak sama.

Tribun Jateng/Fajar Bahruddin Achmad
Ilustrasi. Masyarakat di perkampungan saat buka puasa. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Lamanya puasa Ramadan yang dijalani setiap umat muslim di berbagai belahan dunia tidak sama. Perbedaan waktu lamanya puasa tersebut dialami umat muslim Indonesia yang berada di luar negeri. Mereka merasakan durasi puasa jauh lebih lama dibanding saat berpuasa di Indonesia.

Di antaranya sebagaimana dirasakan Hasto Suprayoga. Warga Semarang tersebut pernah tinggal di Inggris selama empat tahun lamanya. Ia saat itu mendampingi istrinya yang sedang menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi di Bournemouth, Inggris, yaitu Bournemouth University.

Di Bournemouth, Hasto mengatakan, durasi puasa yang dijalani antara 16 jam sampai 18,5 jam. Durasi puasa tersebut dipengaruhi musim yang saat itu berlangsung di Inggris.

"Kalau di Indonesia itu rata-rata puasanya kisaran 12 jam. Nah kalau di sana (Inggris--red) itu berkisar antara 16-18,5 jam. Tergantung musim," kata Hasto kepada Tribun Jateng melalui sambungan telepon, Rabu (21/4/2021).

Ia mengungkapkan, di Inggris ada empat musim. Yaitu spring (musim semi), summer (musim panas), autumn (musim gugur) dan winter (musim dingin). Jika Ramadan berlangsung pada musim panas, maka durasi puasa lebih pendek yaitu sekitar 16 jam. Namun kalau musim dingin berlangsung maka durasi puasa mencapai 18,5 jam.

"Saya pernah menjalani puasa sampai 18,5 jam karena saat itu musim dingin. Jadi kadang dalam satu bulan Ramadan itu, bisa dua musim sehingga kadang puasanya 16 jam kadang pas lagi musim dingin ya sampai 18,5 jam," ungkapnya.

Durasi puasa tersebut, katanya, masih relatif lebih pendek dibanding di Yugoslavia maupun Rusia yang durasi puasanya jauh lebih lama. Dari informasi temannya yang berada di Rusia, durasi puasa mencapai 22 jam.

Selain lamanya durasi puasa yang dijalani umat muslim di Inggris, kendala dalam menjalankan puasa yang dialami yaitu dalam hal mencari menu berbuka maupun sahur.

Umat muslim di negara tersebut terbilang minoritas. Sehingga berbagai restoran maupun tempat makan lain, mayoritas menyediakan menu makanan yang notabene diperuntukkan untuk umat non muslim.

"Untuk mencari menu halal, maka kita harus mencari restoran yang sudah ada label halal. Kalau sudah ada labelnya itu, pasti menyediakan makanan untuk umat muslim," ungkapnya.

Halaman
12
Penulis: m zaenal arifin
Editor: sujarwo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved