Breaking News:

Berita Semarang

Kerja Keras Pemkot Semarang Tekan Kasus Covid-19 Selama Pandemi

Wabah Covid-19 pertama kali masuk ke Kota Semarang sekitar Maret 2020 lalu.

Penulis: Eka Yulianti Fajlin
Editor: sujarwo
TRIBUN JATENG/EKA YULIANTI FAJLIN
Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi mengedukasi anak-anak mengenai protokol kesehatan memakai masker, beberapa waktu lalu. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Wabah Covid-19 pertama kali masuk ke Kota Semarang sekitar Maret 2020 lalu.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Semarang dalam laman siagacorona.semarangkota.go.id, hingga Kamis (22/4/2021), jumlah kumulatif sebanyak 35.007 orang terpapar Covid-19 sejak awal pandemi.

Rinciannya, 31.964 orang yang terpapar dinyatakan sembuh dan 2.710 orang meninggal dunia karena Covid-19. Sedangkan, 333 orang masih terkonfirmasi positif.

Covid-19 aktif di Kota Semarang bahkan sempat tembus angka 1.025 kasus pada awal Januari lalu. Itu menjadi angka tertinggi sepanjang pandemi. Pemerintah Kota Semarang telah mengambil berbagai kebijakan guna menekan kasus Covid-19.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi merelakan rumah dinasnya menjadi tempat isolasi bagi pasien Covid-19 sejak 31 Maret hingga sekarang. Dia mencatat, hampir 10 ribu orang dirawat di rumah dinasnya selama satu tahun pandemi Covid-19.

Pemerintah Kota Semarang pun berupaya memberikan pelayanan terbaik kepada warga yang dirawat di rumah dinas. Sebanyak 98 persen yang dirawat di sana dinyatakan sembuh. Sedangkan, 1,5 persen dirujuk ke rumah sakit karena harus dilakukan penanganan lebih intensif dan 0,5 persen lainnya pulang sebelum dinyatakan sembuh.

"Secara kemanfaatan, rumah dinas sangat luar biasa. Hari ini tempat isolasi itu jadi tumpuan utama," papar Hendi, sapaannya.

Dia juga sempat membuka tempat isolasi di gedung diklat Pemkot Semarang dan Asrama Haji Manyaran dengan kerjasama Kementrian Agama. Dua tempat isolasi itu kini telah ditutup seiring menurunnya angka Covid-19 di Kota Semarang.

Pemkot berupaya menekan kasus Covid-19 dengan tetap memberikan kelonggaran. Pihaknya memilih memberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PKM) atau kini menjadi PPKM sebagai jalan tengah penanganan Covid-19 secara kesehatan dan secara ekonomi.

Semakin menurunnya kasus, pelonggaran aturan PPKM diberlakukan. Berbagai aktivitas ekonomi semakin dilongggarkan. Aktivitas sosial budaya yang sebelumnya tidak diperkenankan kini mulai dibolehkan dengan pembatasan 50 persen.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved