Breaking News:

PBB: Jutaan Orang di Myanmar Terancam Kelaparan, dampak Kudeta dan Krisis Ekonomi

Kerawanan pangan meningkat tajam di Myanmar setelah kudeta militer dan krisis ekonomi, yang berpotensi membawa jutaan orang akan mengalami kelaparan.

Editor: Vito
STR / AFP
Para pengunjuk rasa memberi hormat tiga jari dalam aksi menyalakan lilin untuk menghormati mereka yang telah meninggal dalam demonstrasi menentang kudeta militer di Yangon, Myanmar, Sabtu (13/3/2021) malam. Kekerasan yang dilakukan junta militer Myanmar mendorong seruan revolusi semakin menguat. 

TRIBUNJATENG.COM, YANGON - Kerawanan pangan meningkat tajam di Myanmar setelah kudeta militer dan krisis ekonomi, yang berpotensi membawa jutaan orang lebih akan mengalami kelaparan dalam beberapa bulan mendatang.

Hal itu disampaikan Badan Program Pangan Dunia (WFP) dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Kamis (22/4), seperti dilansir Reuters.

Hingga 3,4 juta lebih rakyat Myanmar diprediksi akan kesulitan membeli makanan dalam 3-6 bulan ke depan.

Analisis Program Pangan Dunia (WFP) menyebut, daerah perkotaan akan mengalami dampak terburuk, karena meningkatnya warga yang kehilangan pekerjaan dalam bidang manufaktur, konstruksi, dan layanan, ditambah harga pangan naik, .

"Semakin banyak orang miskin kehilangan pekerjaan mereka dan tidak mampu membeli makanan," kata direktur WFP, Stephen Anderson, dalam sebuah pernyataan.

"Respons bersama diperlukan sekarang untuk meringankan penderitaan segera, dan untuk mencegah kemerosotan yang mengkhawatirkan dalam ketahanan pangan," tambahnya.

Menurut dia, harga pasaran komoditas beras dan minyak goreng masing-masing telah naik sebesar 5 persen dan 18 persen sejak akhir Februari.

Para keluarga di ibukota komersial Yangon tidak bisa makan, makan makanan yang kurang bergizi, dan berutang.

Agensi berencana memperluas operasi, tiga kali lipat menjadi 3,3 juta jumlah orang yang dibantu.

Sementara, seorang juru bicara junta Myanmar tidak segera menjawab panggilan telepon untuk meminta tangapan terkait dengan hal itu.

Banyak orang di Myanmar kini bergantung pada pengiriman uang dari kerabat di luar negeri. Sebagian besar impor dan ekspor telah dihentikan, dan pabrik telah ditutup.

Sebelum kudeta, WFP menyatakan, sekitar 2,8 juta di Myanmar dianggap tidak aman pangan. Pandemi virus corona juga berdampak pada ekonomi Myanmar(Tribunnews)

Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved