Breaking News:

Pemkot Semarang Ingin Urban Farming Jadi Lifestyle Masyarakat

Wali Kota Semarang yang akrab disapa Hendi pun telah memberikan contoh dengan menanam padi di Taman Balai Kota.

ISTIMEWA
Hendi Panen Padi di Balaikota Semarang 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Tren urban farming atau pertanian perkotaan di Kota Semarang semakin meningkat. Hal itu tak lepas dari semangat Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, dan Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu dalam mengajak masyarakat untuk memanfaatkan lahan kosong di lingkungan sekitar.

Ditambah, kondisi pandemi ini membuat keinginan masyarakat untuk menanam semakin besar.

Wali Kota Semarang yang akrab disapa Hendi pun telah memberikan contoh dengan menanam padi di Taman Balai Kota. Gerakan menanam padi di Taman Balai Kota menunjukan kepada masyarakat bahwa menanam padi tidak harus berada di lahan persawahan.

"Upaya kita bisa menghijaukan balai kota ada manfaatnya meski tidak besar," ungkap Hendi, sapaannya.

Dia mengajak masyarakat menanam di rumah masing-masing meski lahan yang terbatas. Dengan upaya ini, masyarakat bisa menjaga ketahanan pangan secara mandiri.

"Kalau hari ini padi, selanjutnya bisa sayur-sayuran, umbi-umbian, buah, bisa dilakukan di rumah kita masing-masing sepanjang kita punya niat," sebutnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang, Hernowo Budi Luhur mengatakan, lahan pertanian perkotaan sangat terbatas. Oleh karena itu, diperlukan upaya mengembangkan produktivitas melalui intensifikasi hasil pertanian dengan mengembangkan urban farming. Pihaknya menggelorakan "Ayo Nandur" dengan harapan urban farming bisa berkembang di setiap keluarga dan dicintai oleh kaum milenial.

Dia menilai, respon masyarakat terhadap urban farming sangat besar. Hal ini dibuktikan molonjaknya permintaan masyarakat akan kebutuhan bibit. 

"Ke depan, kami ingin urban farming yang menjadi lifestyle atau gaya hidup. Masyarakat bisa mendapatkan makanan yang lebih sehat dengan menanam sendiri," ucap Hernowo, Jumat (23/4/2021).

Hernowo mencatat, sudah ada 151 kelompok urban farming. Jumlah itu terus meningkat seiring dengan digelarnya pelatihan urban farming oleh Dispertan setiap Sabtu dengan tema yang berbeda-beda.

Menurut Hernowo, urban farming di Kota Semarang saat ini tidak hanya di lingkungan masyarakat. Sekolah-sekolah bahkan mulai mengembangkannya.

"Walaupun murid-murid belajar di rumah, murid di beberapa sekolah diajarkan menanam kemudian tanaman itu dikirim ke sekolah. Ini sudah berjalan di SD Ngaliyan, SMP 11, dan SMP 33," sebutnya.

Secara perlahan, Dispertan akan menggelorakan setiap gedung yang memungkinkan bisa dikembangkan urban farming. Namun demikian, pihaknya membutuhkan payung hukum setidaknya berupa peraturan wali kota (perwal).

"Pak wali sudah mengimbau secara lisan agar kantor kelurahan melakukan urban farming. Kami akan gelorakan pelan-pelan dengan harapan setiap gedung bisa mengembangkan," terangnya.

Penulis: Eka Yulianti Fajlin
Editor: Daniel Ari Purnomo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved