Breaking News:

Perbankan

OJK Terus Mendorong Sektor Keuangan Syariah, Guna Mengakselerasi Pemulihan Ekonomi

Otoritas Jasa Keuangan terus mendorong sektor keuangan syariah, hal ini dituturkan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Wimboh Santoso.

(Tribun Jateng / Ruth Novita Lusiani)
Kegiatan sarasehan yang dihadiri Kepala OJK Regional 3 Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, Aman Santosa (kiri no 1), Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Wimboh Santoso (kiri no 2), Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia, Hery Gunardi (kiri no 3), di Hotel Tentrem, Jumat, (23/4/2021).  

Penulis: Ruth Novita Lusiani 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Otoritas Jasa Keuangan terus mendorong sektor keuangan syariah, hal ini dituturkan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Wimboh Santoso dalam kegiatan sarasehan yang diadakan di Hotel Tentrem Semarang, Jumat, (23/4/2021). 

Adapun kegiatan sarasehan ini menjadi salah satu media komunikasi langsung antara OJK, Pemerintah Daerah, Perumus Kebijakan, Pelaku Industri Jasa Keuangan, serta stakeholder terkait untuk menghasilkan gagasan konkret untuk mendorong pertumbuhan sektor keuangan syariah dalam upaya mengakselerasi pemulihan ekonomi Jawa Tengah. 

Dalam sarasehan tersebut hadir beberapa narasumber, diantaranya Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Wimboh Santoso, Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, Fathan Subchi, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, dan Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia, Hery Gunardi.

Wimboh menyampaikan potensi ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia masih sangat besar, mengingat lebih dari 87 persen penduduk Indonesia (230 juta orang) adalah muslim dengan 56,7 persen populasinya tinggal di daerah perkotaan. Hal tersebut didukung pula dengan nilai industri halal yang terus meningkat, pada tahun 2020 mencapai USD 3 Miliar. Selain itu, Indonesia juga dinobatkan sebagai Destinasi Wisata Halal terbaik di dunia menurut Global Moslem Travel Index 2019.

“Berdasarkan data OJK per Februari 2021 total aset keuangan syariah Indonesia mencapai Rp 1.836,57 triliun, termasuk sektor perbankan, pasar modal dan Industri Keuangan Non Bank (IKNB) Syariah. Market share perbankan dan IKNB syariah terhadap nasional masih di bawah 10 persen yaitu masing-masing sebesar 6,48 persen dan 4,37 persen. Sementara pasar modal syariah, market sharenya terhadap nasional sudah mencapai 17,29 persen,” ungkap Wimboh dalam kegiatan sarasehan Jumat, (23/4/2021). 

Dikatakannya, selain market share yang relatif rendah dibanding konvensional, tantangan lain dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia diantaranya competitiveness produk atau layanan dan tingkat literasi yang masih rendah, serta terbatasnya SDM untuk mendukung pengembangan sektor syariah

“Tingkat literasi keuangan syariah hanya sebesar 8,93 persen, sementara indeks literasi nasional tercatat sebesar 38,03 persen,” terangnya. 

Ia mengatakan tantangan tersebut dapat dihadapi dengan strategi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah antara lain dengan penguatan lembaga keuangan syariah melalui peningkatan permodalan dan SDM, integrasi ekosistem keuangan syariah dengan ekosistem digital dan peningkatan literasi keuangan syariah melalui program edukasi dan riset.

“Keuangan syariah ini akan menjadi pilihan masyarakat kalau kualitas produknya bagus, harganya kompetitif dan juga akan menjadi pilihan apabila menyediakan akses dengan cepat kepada masyarakat. Supaya masyarakat tau, harus ada program edukasi dan literasi. Adapun kami melihat kalau potensi Jawa Tengah ini sangat besar sekali,” imbuhnya. 

Terkait optimalisasi peran keuangan syariah dalam perekonomian, para narasumber sepakat bahwa produk-produk keuangan khususnya perbankan syariah harus disiapkan lebih universal untuk semua kalangan dan memiliki daya saing yang tinggi dibandingkan dengan produk keuangan lainnya. 

Fathan Subchi menegaskan, industri keuangan syariah ini harus mampu bersaing di pasar dan tidak bergantung terhadap dukungan pemerintah maupun regulasi.

Sementara itu, Direktur Utama BSI, Hery Gunardi menyampaikan, saat ini BSI masih dalam tahap merger aktivitas operasional setelah proses legal merger selesai pada tanggal 1 Februari 2021 lalu. 

BSI telah berkomitmen untuk melakukan pembenahan pasca merger sehingga bisa lebih efisien dan memberikan layanan yang kompetitif bagi masyarakat. BSI diharapkan mampu lebih berperan sebagai pilar baru ekonomi indonesia serta memberi dukungan terhadap pemulihan ekonomi khususnya di Jawa Tengah.

“Dengan hadirnya BSI ini menjadi milestone bahwa sudah hadir bank syariah terbesar di Indonesia dengan total aset sekitar Rp 240 triliun, dengan pendanaan sekitar Rp 209 triliun, pembiayaan yang diberikan kepada masyarakat sekitar Rp 157 triliun, cabang yang tersebar di Indonesia sebanyak 1.365 cabang, karyawan 20.000 ribu, dan lain sebagainya,” paparnya. (Ute)

Penulis: Ruth Novita Lusiani
Editor: rival al manaf
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved