Jumat, 1 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Menilik Pengolahan Bubur India, Kuliner Khas Ramadan di Semarang yang Legendaris

Tidak semua tempat menyajikannya, bubur india hanya ada di Masjid Jami Pekojan jalan Petolongan nomor 1 Purwodinatan, Semarang Tengah.

Tayang:
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: m nur huda

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Bulan suci Ramadhan merupakan momen yang dinantikan umat muslim.

Selain sebagai ladang mencari berkah, bulan Ramadhan menjadi momen istimewa bagi sebagian orang karena dapat menjumpai berbagai kuliner khas yang tidak setiap waktu ada.

Di Kota Semarang, Jawa Tengah, satu di antara menu yang hanya bisa ditemui ketika bulan puasa adalah bubur india.

Tidak semua tempat menyajikannya, bubur india hanya ada di Masjid Jami Pekojan jalan Petolongan nomor 1 Purwodinatan, Semarang Tengah.

Bubur ini dijadikan sebagai takjil khas Ramadhan sejak ratusan tahun lalu.

"Kalau sekarang, usianya sudah lebih dari satu abad," kata Ali, ketua Takmir Masjid Jami Pekojan, baru-baru ini.

Terletak di belakang masjid, proses pembuatan bubur legendaris ini berlangsung.

Bubur India dibuat dengan bahan dasar beras dengan campuran santan dan berbagai jenis rempah serta sayur.

Ahmad Ali (55) adalah generasi keempat yang meneruskan tradisi pembuatan bubur india.

Katanya, bubur India dahulu dikenalkan oleh seorang musafir asal Gujarat India.

Saat itu tepat ketika bulan Ramadhan musafir tersebut singgah di masjid Pekojan mengajak para takmir dan warga untuk berbuka puasa bersama.

Pada saat itulah musafir yang datang berdagang itu memberikan resep untuk dimasak di lingkungan masjid.

"Jadi untuk memasak takjil, musafir itu memberikan resep bubur dengan campuran bahan rempah-rempah.

Itulah yang menjadi alasan nama bubur india, resepnya diberi oleh orang India dan memiliki perbedaan dari bubur pada umumnya," terang Ahmad di sela-sela memasak bubur india, Jumat (23/4/2021).

Ahmad mengatakan, yang menjadi kekhasan bubur India adalah campuran rempah-rempah dan wortel.

Resep bubur india telah diwariskan kepada Ahmad sejak tujuh tahun lalu.

Meski secara turun-temurun dalam keluarganya sebagian besar menjadi pengurus masjid, namun kata Ahmad, baru dirinyalah yang diberi tanggungjawab menjadi koordinator juru masak.

Menurutnya, tidak sembarang orang bisa mengemban tugas menjadi juru masak bubur india.

Hal itu karena kata dia, selain bermodalkan keikhlasan, tidak semua orang mampu menaklukkan tungku dengan api besar yang menyala-nyala.

Setiap hari dalam sebulan itu Ahmad hanya dibantu Taskirin, takmir masjid lainnya.

Sementara penyiapan bahan lengkap dengan beraneka bumbu, Ahmad dibantu oleh ibu-ibu warga Pekojan.

"Penyiapan bahannya, ibu-ibu yang melakukan.

Namun untuk pengolahan hanya dua tenaga, saya dan Pak Kirin karena tidak semua orang bisa tahan dengan bara api dan asapnya.

Selain itu juga agar penanggungjawabannya mudah," kata warga yang juga merupakan keturunan Gujarat tersebut.

Kemampuan Ahmad dalam memasak bubur india memang sudah tidak diragukan lagi.

Kepulan asap yang keluar dari tungku dan hawa panas yang menyengat hingga ke pori-pori tak lantas membuat kakek lima cucu ini menjauh dari perapian.

Sebaliknya, dengan keberanian dan tekad kuatnya menjadi juru masak bubur india hingga akhir hayat, ia mampu menguasai dapur terbuka itu hingga berjam-jam lamanya.

Dimulai sejak pukul 11.00 WIB, Ahmad memulai peraduannya di depan tungku.

Disulutkannya api di atas tumpukan kayu hingga api menyala-nyala dan dipercikkannya air jika api mulai merambat keluar area tungku.

Di sana, Ahmad mulai memasak air yang telah bercampur dengan santan atau disebutnya air cewer, yakni air santan yang tidak kental.

"Proses memasaknya ini memang harus menggunakan tungku besar karena dalam skala besar.

Dulu pernah mencoba menggunakan kompor gas, namun untuk menunggu air hingga mendidih dibutuhkan waktu yang jauh lebih lama," kenangnya.

Selama kurang lebih 30 menit, cewer yang dimasak itu pun mulai mendidih.

Ahmad dan Kirin lantas memasukkan beraneka jenis rempah beraroma kuat seperti jahe, daun salam, pandan, cengkeh, kayu manis, bawang merah, dan bawang putih sebagai penyedap alami bubur.

Selain itu juga ditambahkannnya sayur seperti wortel dengan tambahan daun bawang serta garam untuk memberikan unsur gurih terhadap masakan.

Barulah setelah beberapa saat, beras sebagai bahan utama bubur dimasukkan ke dalam alat masak yang terbuat dari kuningan itu.

"Setelah (adonan) mengental baru dimasukkan santan yang kental.

Proses pengadukan ini kurang lebih dua jam tanpa henti," kata Ahmad mantab.

Sambil mendengarkan salawat melalui ponselnya, Ahmad tak hentinya mengaduk adonan tersebut.

Pukul 14.30 WIB masakan telah terlihat menjadi bubur dengan aroma khas rempah yang menggoda.

Para warga mulai berdatangan saat adzan salat ashar berkumandang sembari membawa mangkuk kosong untuk dititipkan di dapur.

 
Begitu salat selesai, para warga yang turun dari masjid lantas mengantre pembagian bubur India untuk dibawa pulang.

Ahmad menyebut, dalam sekali pembuatan rata-rata menghabiskan 20 kilogram beras setiap harinya.

Saat telah menjadi bubur, bubur dapat dibagikan kurang lebih 200 porsi.

Jika ada donatur lebih, bubur india disajikan dengan lauk. Adapun lauk berbeda-beda setiap harinya.

"Buburnya ada yang dibawa pulang, ada yang untuk takjil di masjid.

Kalau warga yang membawa pulang biasanya ada sekira 100 orang," tukasnya. (idy)

TONTON JUGA DAN SUBSCRIBE : 

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved