Breaking News:

Militer Myanmar Sempat Instruksikan Pembunuhan Demonstran Penolak Kudeta

Komando militer tertinggi Myanmar diketahui mengeluarkan sejumlah memo internal untuk "bunuh mereka", yang melegalkan pembunuhan demonstran.

Editor: Vito
via Tribunnews
Demonstran di seluruh Myanmar menggelar aksi menyalakan lilin pada Rabu (24/3/2021) malam. 

TRIBUNJATENG.COM, NAY PYI TAW - Protes besar yang diikuti ribuan orang di banyak kota di Myanmar sepanjang Maret lalu dibalas militer dengan kekerasan dan menyebabkan lebih dari 700 orang meninggal dunia, termasuk puluhan anak-anak, sementara banyak lainnya ditahan.

Komando militer tertinggi Myanmar di Nay Pyi Taw diketahui mengeluarkan sejumlah memo internal untuk "bunuh mereka", yang melegalkan pembunuhan dan semakin mengancam bagi pengunjuk rasa anti-kudeta.

"Anda harus memusnahkan mereka ketika Anda berhadapan dengan mereka," demikian bunyi perintah dalam memo internal tertanggal 11 April, yang dikutip dari The Irrawaddy, Sabtu (24/4).

Alasannya bahwa perusuh telah beralih dari demonstrasi damai ke tingkat konflik bersenjata, merujuk pada tindakan pengunjung rasa anti-kudeta yang disebut sebagai perusuh oleh junta militer.

Perintah tersebut sekaligus menjadi dukungan atas pembantaian 82 orang yang terjadi 2 hari sebelumnya di Bago, sebuah kota di utara Yangon.

Pada hari itu, tentara dan polisi menghujani pengunjuk rasa dengan peluru tajam dan granat senapan, untuk menghancurkan benteng karung pasir yang menghalangi jalan. 

Dua hari kemudian, pada 14 April, junta militer membagikan memo internal lain. Bunyinya, "Semua pasukan keamanan darurat harus dipersenjatai secara penuh dan sistematis".

Sebab, tambah memo itu, "kerusuhan dapat meluas ke wilayah kendali Anda," mengutip protes yang sedang berlangsung di "setiap kota di wilayah Sagaing, Mandalay, Yangon, dan Bago, serta di Negara Bagian Mon."

Panglima Junta Militer Myanmar Jenderal Min Aung Hlaing, telah menerima usulan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN untuk menghentikan kekerasan terhadap warga sipil.

Seperti diketahui, KTT ASEAN digelar di Jakarta pada Sabtu (24/4) lalu. Pertemuan para pemimpin negara ASEAN itu yang membahas krisis Myanmar itu mencapai lima kesepakatan, antara lain penghentian kekerasan terhadap demonstran penolak kudeta. (kompas.com)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved