Breaking News:

Seluk Beluk Bendungan Bener Calon Waduk Tertinggi di Indonesia

Di kantor polisi, Slamet dan beberapa warga diinterogasi terkait keterlibatannya dalam unjuk rasa tersebut.

Editor: iswidodo
tribunjateng/ist
Proyek Bendungan Bener di Desa Wadas, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo 

TRIBUNJATENG.COM, PURWOREJO - Unjuk rasa penolakan penambangan batu andesit untuk proyek bendungan di Desa Wadas, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, berujung ricuh, Jumat 23 April kemarin.
Ada 11 warga yang diduga terlibat dalam kericuhan tersebut diamankan Polres Purworejo dan kemudian diinterogasi. Tak berselang lama 11 warga itu telah dibebaskan.
Slamet warga Wadas mengatakan, dirinya turut ditangkap polisi saat terjadi kericuhan. Di kantor polisi, Slamet dan beberapa warga diinterogasi terkait keterlibatannya dalam unjuk rasa tersebut. "Kami dibawa ke Polres (Purworejo). Di sana kami diinterogasi soal keterlibatan dalam unjuk rasa," ujar Slamet.
Menurut Slamet, warga berunjuk rasa karena menolak penambangan batu andesit di lahan warga. Lahan itu selanjutkan akan dibangun bendungan. Penambangan itu dinilai merusak lingkungan dan mematikan mata pencarian warga. Batu andesit itu digunakan untuk membangun bendungan Bener Purworejo. Mereka mendapatkan pendampingan hukum dari LBH Yogyakarta. Menurut Slamet warga tetap menolak proyek itu. "Sikap warga tetap menolak," tegas Slamet.
Kapolres Purworejo AKBP Rizal Marito menyatakan pihaknya telah menerapkan prosedur dan proporsional dalam penggunaan kekuatan sampai tahap pembubaran massa. Sebab saat itu sudah mulai aksi-aksi provokasi dan anarkis dengan menyerang petugas dengan memukul menggunakan tangan kosong, kayu dan lemparan batu.
Menurutnya, bentrok tak bisa dielakkan, warga melempari petugas dengan batu, petugas membalas dengan tembakan gas air mata. Sejumlah orang yang terindikasi sebagai provokator diamankan dan dibawa oleh polisi.
Penutupan Akses
Rizal melanjutkan, kejadian itu bermula ketika ia menerima laporan masyarakat terkait penutupan akses jalan Kabupaten, di Desa Wadas, Kecamatan Bener. Polres Purworejo dibantu personel Brimob dan Kodim 0708 Purworejo melakukan upaya-upaya preemtif di lokasi.
Aparat telah mengimbau warga agar tidak memblokir jalan karena jalan merupakan fasilitas umum yang digunakan oleh masyarakat umum. Pengunjuk rasa adalah warga yang menolak tanah Desa Wadas untuk proyek pembangunan Bendungan Bener. Jalan ditutup menggunakan batang pohon, tiang listrik, hingga bebatuan yang disebar di jalan.
Tertinggi di Indonesia
Proyek Bendungan atau Waduk Bener di Purworejo adalah Proyek Strategis Nasional (PSN) yang telah ditetapkan melalui Prepres No 56 Tahun 2018 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional. Desa Wadas di Kecamatan Bener adalah lokasi yang akan dibebaskan lahannya dan dijadikan lokasi pengambilan bahan material berupa batuan andesit untuk tujuan pembangunan Bendungan Bener.
Berdasarkan amdal proyek bendungan Bener, lahan yang akan dieksploitasi untuk lokasi quarry (bahan material) seluas 145 hektar dan 8,64 hektarnya untuk jalan akses pengambilan material. Penambangan akan dilakukan menggunakan metode blasting (peledak) yang diperkirakan menghabiskan 5.300 ton dinamit. Warga menolak penambangan karena mengancam keberadaan 27 sumber mata air di Desa Wadas yang berarti juga berpotensi merusak lahan pertanian warga.
Rencananya, Bendungan Bener menjadi yang tertinggi di Indonesia, dengan ketinggian waduk 159 meter, panjang timbunan 543 meter, dan lebar bawah sekitar 290 meter. Akan menjadi bendungan tertinggi di Indonesia. Sumber air bendungan berasal dari aliran Sungai Bogowonto.
Ada 8 desa di Purworejo terdampak langsung proyek ini yaitu Wadas, Bener, Kedung Loteng, Nglaris, Limbangan, Guntur, dan Karangsari di Kecamatan Bener. Sedangkan satu desa lainnya berada di Kecamatan Gebang, yakni Desa Kemiri.
Megaproyek ini nantinya berfungsi sebagai sumber air untuk warga Purworejo, PLTA, pencegahan banjir, irigasi, air baku, dan pamasok kebutuhan air di Kulonprogo.
Berdasar data di Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP) nama proyek adalah Bendungan Bener. Konstruksi mulai dikerjakan 2018 dan Bendungan Bener akan mulai beroperasi tahun 2023.
Sesalkan Kericuhan
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyayangkan terjadinya insiden kericuhan antara warga dan aparat di Desa Wadas, Bener, Kabupaten Purworejo. Ganjar berharap persoalan yang terjadi dapat diselesaikan dengan cara duduk bersama dan kekeluargaan.
"Sosialisasi dulu biar semua saling memahami dan bisa berdialog. Pak Bupati sedang menyiapkan komunikasi dengan warga. Biar tidak saling emosi," kata Ganjar. Menurutnya, upaya sosialisasi sudah dilakukan sebelum terjadi bentrokan itu. "Pasti, sosialisasi terus dilakukan," ucapnya.
Berdamai
Wakil Ketua DPRD Jateng, Sukirman menyatakan, Gubernur Ganjar perlu memberikan penjelasan detail kepada masyarakat terkait pembangunan Bendungan Bener ini. Supaya semua jelas dan memahami akan pentingnya proyek nasional ini.
Sukirman berharap ada solusi terbaik. Proyek besar memang biasanya ada masalah pembebasan lahan, nilai ganti untung, dan sebagainya. "Soal ganti rugi saya cek sudah clear," tandas Sukirman.
Soal bentrokan, dia berharap peristiwa itu adalah yang terakhir di provinsi ini. "Saya akan komunikasi dengan Pak Kapolda untuk berdamai dengan masyarakat terkait peristiwa itu. Ayoo kita duduk bersama," imbuhnya. (kompas/tribun/mam)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved