Tadarus

TADARUS AM JUMAI: Puasa dan Keseimbangan Hidup

Dalam kaitannya dengan aspek sosial misalnya, puasa merupakan jalan untuk meningkatkan sistem solidaritas dan kesetiakawanan sosial yang selama ini

Editor: iswidodo
tribunjateng/ist
AM Jumai | Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat PW Muhammadiyah Jateng 

AM Jumai | Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat PW Muhammadiyah Jateng

TRIBUNJATENG.COM - Puasa merupakan ladang paling subur untuk mempertebal keimanan, ketaqwaan serta wahana penciptaan nilai moral serta tanggung jawab setiap kaum muslim. Banyak ayat al-Qur’an yang menunjukkan bahwa puasa sesungguhnya mendidik orang supaya mawas diri, dan menghadirkan kemahabesaran dan keagungan Tuhan di tengah badai keseimbangan diri manusia yang sedang diuji.

Dalam kaitannya dengan aspek sosial misalnya, puasa merupakan jalan untuk meningkatkan sistem solidaritas dan kesetiakawanan sosial yang selama ini dinilai renggang. Solidaritas ini bisa terwujud di bulan Ramadan karena mereka menyadari bahwa hakikat puasa bukan semata-mata menjalankan dimensi ritual ubudiyah semata, melainkan juga dimensi tasawuf/etis.

Seperti kita lihat bahwa dengan puasa orang mudah mengeluarkan rezkinya, ringan menjalankan shalat berjama’ah, bertadarrus, dan seterusnya. Keseimbangan diri inilah yang perlu dipupuk selama bulan Ramadan ini agar terbentuk jiwa raga yang kamil.

Secara kualitas, setiap amalan yang dikerjakan di bulan Ramadan banyak mengandung makna ibadah, dalam arti yang sesungguhnya. Sehingga dalam bulan Ramadan dilukiskan bahwa puasa merupakan ibadah milik Allah. Artinya, amalan-amalan yang dilakukan di bulan ini memiliki nilai yang tambah di hadapan-Nya, begitu juga kalau melakukan amalan-amalan yang berdimensi sosial.

Puasa sebagaimana yang diperintahkan Allah selain memiliki hubungan vertikal juga melambangkan hubungan horizontal. Perintah menjalankan puasa sejatinya menyeimbangkan antara dimensi teologis dan sosiologis. Karena itu, Allah membuka peluang bagi kaun aghniya’ (orang kaya) untuk memperbanyak ibadah baik secara bathiniyah maupun secara material. Janji Allah terhadap mereka yang mampu melaksanakan keseimbangan ibadah ini pasti pahalanya akan dilipatgandakan.

Untuk meraih janji-janji Tuhan itu, kemudian lahirlah keinginan dan semangat berlomba-lomba dalam melakukan amalan, baik amalan sunnah maupun wajib. Perlombaan inilah kemudian membentuk manusia memiliki kepedulian terhadap diri sendiri dan kepedulian bagi sesama. Kepedulian ini lahir bukan karena terpaksa, dipaksa, namun lahir karena panggilan hati nurani. Jiwa atau hati yang bersih akan lahir sebuah perbuatan yang bersih dan begitu sebaliknya jiwa yang kotor akan menjerumuskan diri sendiri dan bukan tidak mungkin pada orang lain.

Pembentukan Moral
Moral merupakan nilai-nilai yang biasa dijadikan patokan, dasar dalam melakukan tindakan. Sehingga dalam prakteknya seorang tentu tidak terlepas dari apa yang disebut moral. Moral kerap kali disebut dalam setiap perbuatan manusia. Pertanyaannya adalah apakah tindakan itu berdasarkan moral atau tidak? Pertanyaan inilah yang sering muncul dalam benak hati manusia. Dan bisikan-bisikan pasti itu pasti lahir di dalam jiwa manusia.

Moral dan puasa memiliki kaitan yang sangat erat serta tidak bisa dipisah-pisahkan satu sama lain. Karena puasa adalah sarana untuk membentuk moral kemanusiaan universal. Maka pendidikan moral secara tidak langsung dapat terwujud dengan baik di bulan puasa ini. Penyimpangan moral yang sering terjadi di luar bulan Ramadan merupakan manifestasi dari tipisnya kesadaran memiliki Tuhan, diri sendiri dan kemanusiaan.

Rapuhnya moral karena tidak meletakkan dirinya sebagai pelaku sosial.

Tepatlah apa yang terkandung dalam sebuah hadits bahwa “dalam diri manusia terdapat segumpal daging, jika ia baik maka perbuatannya akan baik dan jika ia rusak maka perbuatannya akan rusak, ketauhilah bahwa itu adalah hati. Moral kaitannya dengan hati adalah sebuah pilihan-pilihan atau pertimbangan. Artinya hati merupakan timbangan yang akan menentukan pilihan antara kebenaran dan kebatilan. Jadi, keberadaan hati akan sangat berpengaruh terhadap pilihan.

Penguatan Tanggungjawab

Konsep tanggung jawab dalam al-qur’an biasa disebut dengan amanah. Yang artinya dapat dipercaya, jujur, dan dapat dipertanggungjawabkan. Lebih tepat lagi jika konsep amanah ini kemudian diterjemahkan dalam dimensi kehidupan, baik secara personal maupun kolektif (sosial).

Karena dalam kehidupan manusia, tanggung jawab merupakan salah satu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Sehingga manusia tidak bisa menghindar dari tanggung jawab. Sebab, Allah menjadikan manusia di muka bumi ini disamping sebagai Abdullah, juga sebagai khalifatullah (wakil atau duta) yang penuh dengan tanggung jawab sosial.

Pelajaran penting yang terkandung dalam puasa adalah membentuk tanggung jawab manusia. Karena puasa merupakan ibadah khusus yang salah satunya untuk melatih bertanggung jawab pribadi. Karena itu, hubungan pribadi dengan Tuhannya akan menciptakan kesucian jiwa (batin). Sedangkan tanggung jawab pribadi terhadap sosial bisa membentuk sistem tatanan sosial yang baik. Apabila kedua-duanya bisa dilakukan maka tatanan kehidupan dari yang kecil sampai yang besar akan tercipta sistem yang harmonis dan anggun. (*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved