Tadarus

TADARUS Wahidin Hasan: Puasa Material dan Puasa Immaterial

Puasa dalam lisanul 'arab, dari kata shaum, disebut sekali dalam Alquran sementara kata shiyam disebut delapan kali

Editor: iswidodo
tribunjateng/ist
Wahidin Hasan, Fundraising Manager LazisMu Jawa Tengah 

Ditulis oleh Wahidin Hasan, Fundraising Manager LazisMu Jawa Tengah

TRIBUNJATENG.COM - Puasa dalam lisanul 'arab, dari kata shaum, disebut sekali dalam Alquran sementara kata shiyam disebut delapan kali, bermakna menahan, menahan diri dari hal yang membatalkan puasa dari makan, minum dan berjimak dari waktu fajar hingga matahari terbenam.
Berpuasa secara material dapat diartikan menahan secara fisik yakni melindungi alat indera dan fikiran dari semua hal yang diharamkan, sedangkan secara immaterial mengandung maksud berpuasa secara ruhaniah, meninggalkan semua keburukan yang tidak kasat mata, yang dapat mengurangi kesempurnaan puasa, bahkan membatalkannya.
Maka, berpuasa secara materi atau secara fisik dan immaterial atau secara ruhaniah, keduanya harus memiliki keterpaduan, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw, "Banyak orang yang berpuasa tetapi tidak memperoleh apapun dari puasanya kecuali lapar (fisik) dan haus (fisik) dari jerih payahnya itu dan tidak memperoleh manfaat apapun dari yang dilakukannya (ruhaniah)".
Berpuasa dalam keseimbangan keduanya, ia menjaga semua alat inderanya, alam fikirannya dari dosa, menjaga alat indera fisiknya seperti tangan, lidah, mata dan pendengarannya dari perilaku 'fasad' atau yang merusak amalnya bagi dirinya juga orang lain.
Nabi menengarai bahwa orang yang berpuasa mendapatkan dua hikmah atau kegembiraan, "Orang yang berpuasa akan memperoleh dua kegembiraan, yakni kegembiraan saat berbuka (fisik, material) dan kegembiraan yang kedua, saat menemui (melihat) Tuhannya (immaterial, ruhaniah).
Kegembiraan orang berpuasa bermakna sebuah kenikmatan hakiki, nikmat pasca menahan lapar di siang harinya. Kemudian kegembiraan yang kedua, "ketika melihat Tuhannya", ia mengetahui makna batin puasa yang dijalaninya, dan suatu hari ketika ia berjumpa Tuhannya sebagai implementasi kesempurnaan imannya menuju Tuhan (masuk surga).
Allah SWT dalam hal ini, memberikan isyarat, "Puasa adalah untuk-Ku, dan Aku sendirilah yang akan memberikan pahala,".
Dalam konteks ini Allah juga berfirman, "Manusia adalah rahasiaKu, dan Aku adalah rahasianya"., Rahasia inilah yang disebut oleh kalangan sufi sebagai kekuatan ruhaniah, cahaya Allah, maka kesempurnaan puasa yang menyeimbangkan antara kekuatan fisik dan ruhaniah inilah, yang akan membuahkan cintanya kepada Allah menuju kesempurnaan. Inilah yang disebut sebagai orang yang Muttaqin, orang yang ketaatannya sempurna, Wallahu a'lam bi shawaab. (*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved