Breaking News:

Ponpes Askhabul Kahfi

Rukun dan Sunah-Sunah Puasa

SETIAP ibadah dalam Islam akan di anggap sah dan sempurna jika telah dilaksanakan semua syarat dan rukunnya termasuk ibadah puasa Romadhon

IST
KH. Masruchan Bisri, pengasuh Ponpes Askhabul Kahfi Mijen Kota Semarang 

Oleh: KH. Masruchan Bisri
Pengasuh Ponpes Askhabul Kahfi Mijen Kota Semarang

SETIAP ibadah dalam Islam akan di anggap sah dan sempurna jika telah dilaksanakan semua syarat dan rukunnya termasuk ibadah puasa Romadhon. Puasa Romadhon mempunyai tiga rukun. Tiga rukun tersebut yakni :

1.  Wujudnya orang yang berpuasa

Maksudnya, ibadah puasa harus di lakukan sendiri, tidak boleh di badalkan atau di wakilkan.

2.  Niat

Niat puasa Romadhon harus di lakukan setiap malam selama bulan Romadhon, niat tidak boleh di lakukan satu kali untuk berpuasa satu bulan penuh, jika ini di lakukan maka yang sah hanya puasa di hari pertama, karena setiap hari merupakan ibadah tersendiri (ibadah mustaqilah). Niat puasa Romadhon harus di lakukan pada waktu malam hari (tabyiitunniat), yaitu niat sejak terbenamnya matahari (Maghrib) sampai sebelum fajar (imsyak), jika niat di luar waktu tersebut maka puasanya tidak sah. Makan, minum, jima` (bersetubuh) dan semua aktivitas yang di lakukan pada malam hari setelah niat dan sebelum imsak tidak merusak niat puasa dan tidak wajib memperbaruhi niat (tajdiidunniat). Bagi orang yang lupa niat di malam hari, maka puasanya tidak sah dan ia wajib menahan segala hal yang membatalkan puasa seperti makan, minum dll serta wajib mengqodho`. Bagi orang yang mengalami keraguan untuk membatalkan puasa atau berniat untuk membatalkan puasa jika terjadi sesuatu, misal apabila nanti sakit akan membatalkan puasa, ternyata tidak sakit maka puasanya tetap sah. Wanita yang yakin bahwa dirinya telah suci dari haid atau orang yang baru selesai bersetubuh, dan belum sempat mandi junub / mandi besar sebelum fajar (imsak), maka diperbolehkan niat berpuasa dan puasanya di anggap sah, adapun mandi junubnya bisa di lakukan setelah imsak.

3. Meninggalkan hal - hal yang membatalkan puasa

Perkara yang membatalkan puasa antara lain:

 a) Memasukkan sesuatu ke dalam lobang yang terdapat pada lobang tubuh seperti makan, minum, merokok, dsb. Menelan air ludah tidak membatalkan puasa dengan syarat air ludah keluar dari sumbernya dan tidak tercampur dengan benda lain. Debu jalanan, tepung ayakan, asap rokok atau asap lain yang masuk ke dalam tubuh melalui mulut, hidung dan lainnya, maka hal - hal tersebut tidak membatalkan puasa, karena selalu menutup mulut untuk menghindari hal tersebut sangatlah sulit, tapi apabila ada orang yang sengaja membuka mulut sehingga debu, tepung, asap dll masuk ke dalam mulut atau hidung maka hal itu membatalkan puasa. Bagi orang yang sakit gusi yang selalu mengeluarkan darah dan sudah berusaha membersihkannya, ketika masih ada sisa darah yang bercampur dengan ludah kemudian tertelan bersama nya, maka puasanya tidak batal (di ma`fu / di maafkan). Berkumur saat berpuasa untuk berwudhu (madhmadhoh) dan menghirup air ke dalam hidung (istinsyaq) masih tetap di sunnahkan, jika sebagian air tertelan dengan tidak sengaja serta tidak berlebihan dalam berkumur dan istinsyaq (mubalaghoh) maka demikian ini tidak membatalkan puasa. Jika berkumur dan istinsyaq dilakukan secara berlebihan sehingga sebagian air tertelan maka hal ini membatalkan puasa.

Berkumur untuk mendapatkan kesegaran (tabarrud) jika memang itu dibutuhkan maka diperbolehkan, namun harus berhati - hati, karena meskipun tidak berlebihan dalam berkumur jika sebagian air tertelan maka membatalkan puasa.

Halaman
123
Editor: abduh imanulhaq
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved