Breaking News:

Larangan Mudik

Titik Penyekatan di Brebes Ditambah untuk Antisipasi Pemudik dari Jabodetabek dan Jabar

Penambahan titik ini guna mengantisipasi warga yang masih nekat untuk mudik saat pemberlakuan pelarangan mudik

Penulis: mamdukh adi priyanto | Editor: muslimah
Istimewa
Personel gabungan di pos penyekatan Kecipir Losari Brebes memeriksa kendaraan yang masuk ke Jateng. 

TRIBUNJATENG.COM,SEMARANG - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bakal menambah titik penyekatan beserta personelnya. Penambahan ini difokuskan untuk mengantisipasi pemudik dari arah barat atau wilayah Jabodetabek dan Jawa Barat.

Penambahan titik ini guna mengantisipasi warga yang masih nekat untuk mudik saat pemberlakuan pelarangan mudik.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah, Henggar Budi Anggoro mengatakan, akan ada tiga sif atau kelompok personel yang akan berjaga di titik penyekatan terutama di perbatasan atau daerah antar-provinsi.

Personel yang berjaga merupakan gabungan dari TNI, Polri, Kementerian Perhubungan, Dinas Perhubungan Provinsi dan kabupaten/kota, serta Satuan Polisi Pamong Praja. Semua personel dibawah kendali dari Polri. Instansi lain sifatnya diperbantukan atau BKO.

"Semua support pada satu titik-titik tersebut. Maling sama yang dimaling itu kan biasanya pintar malinge, mereka akan mencari jalan mana yang tidak dijaga petugas, termasuk mencari jalan tikus. Kadang-kadang ada yang mencari celah dengan menunggu petugas capek," kata Henggar, Rabu (28/4/2021).

Petugas tidak hanya berjaga di jalan tol dan jalan arteri, tetapi penjagaan akan sampai ke jalan-jalan kecil atau jalan tikus.

Henggar menuturkan penambahan titik ada di pintu masuk Jateng di sisi barat. Awalnya, ada empat titik yakni di Kecipir Losari dan Pejagan (Brebes) serta Patimuan dan Wanareja (Cilacap). Kemudian, ada penambahan dua titik.

"Ada dua jalur tikus dari Jabar ke Jateng yakni di Ciledug dan di Bojongsari. Dua tempat ini akan dilakukan penyekatan yang sering dijadikan jalur untuk pemudik mencari celah untuk masuk ke Jateng," jelasnya.

Menurutnya, upaya yang dilakukan minimal dapat memberikan efek jera supaya warga di perantauan mematuhi aturan dari pemerintah tersebut. Serta upaya bersama untuk mencegah penularan covid.

Saat ini, pengetatan pengawasan sudah berjalan di titik perbatasan antar-provinsi. Sedangkan pengawasan antarkota dan antarkabupaten mulai berjalan saat masa pelarangan.

Seperti diketahui, sesuai Surat Edaran dari Satgas Penanganan Covid-19, larangan berlaku 6-17 Mei. Baru setelah itu ada adendum untuk melakukan pengetatan mulai 22 April atau H-14 dan H+7.

Pemerintah provinsi menyiapkan tiga skenario untuk menyikapi larangan mudik. Yakni saat pralarangan, pada masa larangan, dan penanganan masyarakat yang terlanjur mudik.

"Pada masa pralangan mudik seperti sekarang ini, operasi di lapangan bersama Kepolisian dilakukan dengan melakukan tes rapid antigen secara acak. Ada 14 titik pintu masuk di Jateng yang dilakukan pengetatan," katanya.

Kemudian, saat masa larangan juga pihaknya dengan berbagai instansi akan melakukan pengetatan di batas daerah. Mobilisasi dengan tujuan mudik jelas akan dilarang dan diminta putar balik.

Sementara, untuk pemudik yang terlanjur sampai di kampung halaman, peran Satgas PPKM Mikro atau Jogo Tonggo akan dioptimalkan.(mam)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved