Breaking News:

Ngopi Pagi

FOKUS: Yuk, Terus Disiplin Terapkan 5M

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menegaskan pemerintah tidak akan memberikan dispensasi khusus kepada santri untuk mudik Lebaran.

tribunjateng/grafis bram
Wartawan Tribun Jateng, Rika Irawati 

Ditulis oleh Wartawan Tribun Jateng, Rika Irawati

TRIBUNJATENG.COM - Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menegaskan pemerintah tidak akan memberikan dispensasi khusus kepada santri untuk mudik Lebaran. Pernyataan ini seolah menjawab pertanyaan masyarakat atas sikap pemerintah terkait larangan mudik Lebaran untuk mencegah ledakan kasus Covid-19.
Pasalnya, sebelumnya, Wakil Presiden Ma'ruf Amin meminta adanya dispensasi atau memfasilitasi para santri agar bisa mudik di tengah larangan pemerintah. Namun, pernyataan yang disampaikan Juru Bicara Wapres Masduki Baidlowi itu pun diralat bahwa Wapres Ma'ruf hanya menerima permintaan dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) agar memberi keringanan kepada santri (Kompas.com, 23/4).
Sepakat dengan Menag, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo juga memastikan, pemprov tak akan memberikan dispensasi mudik Lebaran bagi para santri di Jateng. Ganjar memastikan, larangan mudik di Jateng berlaku untuk setiap orang.
Lonjakan kasus Covid-19 memang selalu meningkat setelah libur panjang. Seperti di Kota Semarang, kasus akibat infeksi virus SARS-CoV-2 itu meningkat setelah libur Paskah 2-4 April lalu. Hal ini disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang Moh Abdul Hakam. Bahkan, Hakam mengatakan, mayoritas pasien baru didominasi usia produktif yang memiliki mobilitas tinggi.
Dan pekan ini, secara nasional, kasus Covid-19 kembali meningkat. Ini terlihat dari penambahan wilayah zona merah dan oranye. Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito, Selasa (27/4/2021) mengatakan, terdapat 19 kabupaten/kota zona merah per 25 April, dari enam kabupaten/kota zona merah pada 18 April. Sementara, wilayah zona oranye melonjak menjadi 340 kabupaten/kota dari 322 wilayah pada periode yang sama.
Memang, tak ada satu pun kabupaten/kota di Jawa Tengah yang masuk kategori zona merah atau punya risiko tinggi penularan Covid-19. Namun, dari peta yang dirilis Covid19.go.id, Rabu (28/4/2021), dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah, hanya Kabupaten Demak yang masuk kategori risiko rendah atau zona kuning. Lainnya, masuk kategori zona oranye atau berisiko sedang.
Tentu saja, ini menjadi peringatan bagi pemerintah daerah dan penduduknya. Sedikit saja abai dan lengah, ledakan kasus bisa saja terjadi. Apalagi, sejumlah kepala daerah mulai mengeluhkan warganya yang mulai abai menerapkan protokol kesehatan. Bupati Kendal Dico M Ganinduto mendapati banyak warga tak memakai masker saat akan melaksanakan salat berjemaah di masjid besar di Kendal.
Begitu pula Satpol PP di Kota Semarang, bahkan mendapati sejumlah pedagang takjil yang tak memakai masker di wilayah Simongan, tak memakai masker saat berjualan dan melayani pembeli.
Sebenarnya, kondisi ini mulai lumrah sejak program vaksinasi Covid-19 berlangsung. Banyak pedagang kaki lima (PKL) yang tak lagi menganggap penting masker, saat berjualan. Apalagi, sidak dan patroli dari Satpol PP juga tak segencar awal tahun ini. Mereka pun merasa, isu Covid-19 hanya akan mengganggu usaha mereka. Padahal, menjaga diri dari paparan virus corona lewat memakai masker, tak bakal mengganggu mereka melayani pembeli. Toh, hal ini untuk kesehatan mereka sendiri.
Karena itu, sebelum masa mudik Lebaran tiba, pemerintah harus kembali menggiatkan sidak dan operasi yustisia protokol kesehatan. Ini penting dilakukan lantaran pemerintah pusat, memperbolehkan mudik aglomerasi. Di Jawa Tengah, wilayah yang masuk wilayah aglomerasi adalah daerah Kedungsepur, yakni Kendal, Demak, Ungaran, Salatiga, Kota Semarang, Purwodadi; dan Solo Raya, yang meliputi yakni Kota Solo, Sukoharjo, Boyolali, Karanganyar, Klaten, Wonogiri, Sragen.
Kampanye 5M juga harus terus digiatkan hingga tingkat RT karena ini masih langkah paling efektif mencegah penularan Covid-19. Lima langkah tersebut adalah memakai masker, mencuci tangan pakai sabun di air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, serta membatasi mobilisasi dan interaksi. Yuk, terus disiplin menerapkannya. Bukan untuk orang lain, tapi untuk diri kita agar terus sehat dan bisa melihat orang-orang terkasih di sekitar kita. (*)

Penulis: rika irawati
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved