Breaking News:

Anak Miliarder Semarang Dituduh Telah Menipu Rp 95 Miliar Jual Beli Tanah

Agus Hartono, seorang pengusaha yang juga anak seorang miliarder di Semarang merasa difitnah.

Istimewa
Tim kuasa hukum Agus Hartono, memberikan keterangan kepada wartawan di kantornya, Jumat (30/4/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Agus Hartono, seorang pengusaha yang juga anak seorang miliarder di Semarang, merasa difitnah melalui beberapa media yang menyebutkan bahwa dirinya seorang mafia tanah dan penipu hingga merugikan beberapa orang yang besarnya mencapai Rp 95 miliar.

Kerugian tersebut diklaim dialami oleh beberapa orang di Semarang, Salatiga, Kudus dan Yogyakarta, yang mengaku sebagai korban. Agus Hartono pun membantah apa yang dituduhkan tersebut.

"Itu semua bohong dan fitnah yang keji. Klien kami tidak pernah melakukan penipuan jual beli tanah sebagaimana yang dituduhkan," kata Agus Wijayanto, kuasa hukum Agus Hartono, di Semarang, Jumat (30/4/2021).

Wijayanto menuturkan, kliennya memang pernah melakukan jual beli tanah pada 2016. Namun dari transaksi yang dilakukan tidak ada masalah dan semuanya diselesaikan di depan notaris.

Termasuk juga adanya tuduhan pemalsuan tanda tangan di akta kuasa jual dan peranan notaris Nur Ruwaidah dan Edward Setiadi, yang diduga anak buah Agus Hartono. Menurutnya, semua itu justru upaya pencemaran nama baik Agus Hartono.

"Klien kami sebagai pembeli sudah menyelesaikan seluruh kewajiban terkait jual beli tanah pada 2016 sesuai dengan akta-akta otentik yang dibuat. Sehingga jual beli yang dilakukan itu clear and clean," tegasnya.

Wijayanto mengatakan, bahwa tuduhan terhadap kliennya tak berdasar. Sebaliknya, adanya oknum yang mengaku sebagai korban dan dikriminalisasi, justru merupakan pelaku penipuan.

"Oknum tersebut kita laporkan balik karena memang dalam faktanya telah melakukan sejumlah penipuan terhadap klien kami. Itu sudah ada dasar putusan dari Pengadilan Negeri (PN) Sleman dan yang bersangkutan telah dipidana," ungkapnya.

Wijayanto berharap kepada pihak terkait agar tidak melakukan upaya yang berakibat hukum. Terlebih, berbagai upaya tersebut tanpa didasari bukti-bukti yang sah, sebagaimana dilakukan beberapa orang melalui kuasa hukumnya.

"Apa yang disampaikan kuasa hukum orang yang mengaku korban, itu tak berdasar. Justru semua yang disampaikannya merupakan berita bohong dan fitnah," jelasnya.

Halaman
12
Penulis: m zaenal arifin
Editor: Daniel Ari Purnomo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved