Breaking News:

Korut Sebut Kebijakan AS sebagai Provokasi untuk Bermusuhan

Washington dinilai menghina martabat kepemimpinan tertinggi Korut dengan mengkritik situasi hak asasi manusia (HAM) di negara itu.

Editor: Vito
GETTY IMAGES
ilustrasi - Korea Utara memamerkan peralatan senjatanya dalam parade peringatan hari ulang tahun ke-105 pendiri Korut, Kim Il-sung, pada 15 April lalu. 

TRIBUNJATENG.COM, PYONGYANG - Kementerian Luar Negeri Korea Utara (Korut) mengatakan, komentar terbaru dari Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden dan anggota pemerintahannya menunjukkan bahwa dia bermaksud mempertahankan kebijakan yang bermusuhan terhadap Korut.

Hal itupun dinilai akan membutuhkan tanggapan yang sesuai dari Pyongyang.

Komentar tersebut muncul dalam serangkaian pernyataan yang dimuat di kantor berita negara KCNA, setelah Gedung Putih pada Jumat (30/4) lalu, mengatakan para pejabat AS telah menyelesaikan peninjauan kebijakan Korut selama berbulan-bulan.

Mengutip Reuters, Minggu (2/5), dalam satu pernyataan, juru bicara kementerian menuduh Washington menghina martabat kepemimpinan tertinggi negara itu dengan mengkritik situasi hak asasi manusia (HAM) Korut.

Kritik HAM dinilai sebagai provokasi yang menunjukkan AS bersiap untuk pertarungan habis-habisan dengan Korut, dan akan dijawab dengan sesuai, kata juru bicara yang tidak disebutkan namanya.

Dalam pernyataan terpisah, Kwon Jong Gun, Direktur Jenderal Departemen Urusan AS Kementerian Luar Negeri, mengutip pidato kebijakan pertama Biden kepada Kongres pada hari Rabu, di mana Biden mengatakan program nuklir di Korut dan Iran menimbulkan ancaman yang akan ditangani melalui diplomasi dan pencegahan yang tegas.

Kwon mengatakan, kebijakan Bidan itu tidak masuk akal dan merupakan pelanggaran terhadap hak Korut untuk membela diri dari AS, dan menyebut pencegahan defensifnya sebagai ancaman.

Ia menyebut, pidato Biden tak tertahankan dan merupakan kesalahan besar. "Pernyataannya jelas mencerminkan niatnya untuk tetap menegakkan kebijakan permusuhan terhadap DPRK seperti yang telah dilakukan AS selama lebih dari setengah abad," katanya, menggunakan inisial nama resmi Korut.

Di bawah kebijakan yang diumumkan pada hari Jumat, Biden telah menetapkan pendekatan baru untuk menekan Korut agar menyerahkan senjata nuklir dan rudal balistik yang akan mengeksplorasi diplomasi, tetapi tidak mencari kesepakatan besar dengan pemimpin Korut Kim Jong Un, kata Gedung Putih.

Dalam pernyataan hari Minggu, Kwon Jong Gun menyatakan, pembicaraan diplomasi AS ditujukan untuk menutupi tindakan permusuhannya, dan pencegahannya hanyalah sarana untuk menimbulkan ancaman nuklir ke Korut.

"Sekarang setelah kebijakan Biden menjadi jelas, Korut akan dipaksa untuk menekan langkah-langkah yang sesuai, dan seiring waktu AS akan berada dalam situasi yang sangat serius," ucapnya. (Kontan.co.id)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved