Masih Bergejolak, Demonstran Myanmar Kini Serukan Spring Revolution

Demo menentang kudeta Myanmar masih bergejolak, dengan terbaru ribuan massa menyerukan Spring Revolution, atau revolusi musim semi.

Editor: Vito
SELEBARAN/AFP/FACEBOOK
Foto yang diambil dan diterima dari sumber anonim melalui Facebook menunjukkan pengunjuk rasa mengadakan aksi protes dengan menyalakan lilin terhadap kudeta militer di Mogok, divisi Mandalay, Myanmar, pada Senin (11/4/2021). 

TRIBUJATENG.COM, YANGON - Demo menentang kudeta Myanmar masih bergejolak, dengan terbaru ribuan massa menyerukan Spring Revolution, atau revolusi musim semi.

Unjuk rasa kali ini adalah yang terbaru, menandai 4 bulan sejak pemerintahan sipil Aung San Suu Kyi digulingkan militer pada 1 Februari.

Massa mulai berorasi di Yangon, kota pusat komersial Myanmar. Para pemuda berkumpul di sudut jalan, tetapi segera bubar untuk menghindari bentrokan dengan aparat keamanan.

"Untuk mendapatkan demokrasi adalah tujuan kita!" teriak mereka sambil mengacungkan salam 3 jari. "Untuk menjauhkan kediktatoran militer adalah jalan kita!" lanjutnya.

Di Mandalay, ratusan orang turun ke jalan dipimpin para biksu berbaju kuning, membawa bendera partai National League for Democracy (NLD)-nya Suu Kyi.

Kemudian di negara bagian Shan, para pemuda membawa spanduk bertuliskan, "Kami tidak mau diperintah".

Pukul 10 pagi kekerasan pecah di negara bagian Hsipaw, ketika aparat keamanan menindak demonstran di sana, dan menewaskan sedikitnya satu orang.

"Dia ditembak di kepala dan langsung tewas," kata seorang pedemo yang bergegas menyembunyikan jasad temannya agar tidak diambil aparat keamanan.

"Mereka meminta jenazahnya, tapi kami tidak akan memberikannya... Kami akan memakamkannya hari ini," ujarnya kepada AFP.

Pada tengah hari, media lokal melaporkan, pasukan keamanan mengejar dan menangkapi para demonstran.

"Mereka menangkap setiap anak muda yang mereka lihat," kata seorang sumber di Yangon kepada AFP, yang juga menyebut bahwa dia sedang sembunyi saat itu.

Bom juga meledak di beberapa wilayah Myanmar, dengan frekuensi yang meningkat di Yangon, bekas ibu kota Myanmar.

Kelompok pemantau lokal Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP) menyebut, aparat keamanan telah membunuh 759 warga sipil.

Namun, junta Myanmar yang menyebut AAPP sebagai organisasi melanggar hukum, menyatakan, pendemo yang tewas berjumlah 258 bersama 17 polisi dan tujuh tentara. (Kompas.com)

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved