Breaking News:

Opini

OPINI: Zonasi Pendidikan dan Pemenuhan Hak Anak

OPINI: Zonasi Pendidikan dan Pemenuhan Hak Anak. Ditulis oleh Paulus Mujiran, S.Sos, MSi | Alumnus Pascasarjana Undip Semarang

tribunjateng/ist
Paulus Mujiran, S.Sos, MSi | Alumnus Pascasarjana Undip Semarang 

Ditulis oleh Paulus Mujiran, S.Sos, MSi | Alumnus Pascasarjana Undip Semarang

TRIBUNJATENG.COM - Zonasi pendidikan sejalan dengan Permendikbud Nomor 51 Tahun 2018 telah berlangsung 3 tahun. Kehadiran sistem tersebut dipandang lebih adil karena memberi kesempatan kepada siswa dapat belajar lebih dekat. Sistem ini memberikan kesempatan yang sama kepada semua anak untuk bersekolah tak peduli itu sekolah favorit atau bukan. Dengan sistem zonasi status sekolah favorit dan non favorit terhapuskan.

Begitu juga dengan kasta sekolah sebagai sekolah terkenal atau bukan. Sebab status sekolah juga mempengaruhi dan membentuk perilaku siswa yang berada dalam sekolah tersebut. Pekerjaan rumah terbesar dalam zonasi ialah tugas pemerintah menjadikan semua sekolah menjadi favorit agar tidak terjadi ada siswa yang bersekolah favorit, dan non favorit.
Penghapusan identitas sekolah favorit dan non favorit dengan memberi kesempatan merata kepada semua siswa sebagai bentuk asas non diskriminasi yang diatur dalam prinsip hak anak. Siapapun sepanjang rumahnya dekat dengan sekolah itu, mempunyai prestasi akademik/non akademik atau berpindah ke dekat sekolah itu memiliki kesempatan yang sama untuk dapat sekolah. Dengan sistem zonasi tidak dikenal anak pintar karena semua anak pintar dan kurang pintar melebur dalam sekolah yang sama.
Sistem zonasi juga memenuhi kepentingan terbaik anak dimana anak-anak harus diutamakan. Dewasa ini anak-anak berjalan seperti orang dewasa mini yang mengikuti kehendak orang tuanya. Kehendak untuk sekolah di sekolah favorit atau terkenal kerapkali bukan kehendak anak. Orang tualah yang memaksa anak bersekolah di tempat itu, dan memaksa mereka menjadi juara. Dalam anggapan orang tua hanya anak yang juaralah masa depan sudah di depan mata.
Sistem zonasi juga memungkinkan anak lebih dekat dengan rumah. Dalam hak anak mereka memiliki kesempatan untuk bermain. Dengan jarak rumah ke sekolah yang dekat mereka cepat bisa pulang dan bermain dengan teman-temannya. Hal ini tidak dimungkinkan jika anak bersekolah di sekolah favorit dimana sepanjang waktu dipergunakan untuk belajar dan melakukan kegiatan ekstrakurikuler. Siswa tidak pernah bertemu dengan lingkungan sekitar. Mereka hanya bermain yang disediakan oleh gadget namun tidak mengenal rekan-rekan sebaya di kampungnya.
Kerapkali orang tua lebih senang jika anaknya terus-menerus belajar ketimbang bermain. Jerih lelah sebagai orang tua yang bekerja keras membanting tulang terbayar lunas menyaksikan anaknya mengungkung diri di kamar dengan membaca buku dan belajar. Tak pelak anak tidak mempunyai kesempatan bersosialisasi dengan orang lain. Padahal anak butuh ketemu teman dan mengungkapkan perasaan kepada rekan-rekan sebaya mereka.
Anak juga berhak mendapat pengasuhan dari orang tua. Di usia anak tidak seyogyanya waktunya dihabiskan dengan belajar di sekolah. Harus ada waktu anak dapat berinteraksi secara berkualitas dengan orang tuanya. Kita kenal dengan family time ketika anak boleh bertemu orang tuanya. Itu hanya mungkin terjadi kalau jarak sekolah ke rumah dekat sehingga anak dapat pulang lebih awal dan bertemu dengan orang tuanya setiap hari. Selain itu sistem zonasi juga memberi kesempatan anak terhindar dari kekerasan. Data membuktikan kekerasan terhadap anak 30% terjadi di lingkungan antara yakni antara rumah dan sekolah.
Ketika anak di sekolah dilindungi oleh guru dan serangkaian aturan di sekolah, sementara di masyarakat dilindungi oleh keluarga, lingkungan memegang peranan yang amat penting. Dengan jarak yang diperpendek anak cepat sampai ke rumah sehingga terlindungi dari pergaulan yang kurang sesuai. Pemangkasan jarak ini tentu juga menghemat anggaran transportasi dan keamanan anak dalam menempuh pendididikan.
Bahkan karena jarak yang dekat dengan rumah anak tidak perlu membawa bekal atau makan di kantin sekolah. Mereka dapat pulang ke rumah untuk makan siang dan dapat melanjutkan pelajaran kembali sesudahnya. Dengan demikian pengawasan terhadap makanan yang dimakan anak lebih terawasi.
Yang menjadi masalah ialah meski kebijakan ini berusaha mendekatkan anak dengan orang tuanya sehingga haknya terpenuhi mayoritas orang tua kurang peduli. Orang tua jangan berkutat pekerjaan melupakan pengasuhan kepada anak-anaknya. Beda halnya dengan di era zonasi orang tua lebih mempunyai tanggung jawab mendidik dan mengasuh anaknya.
Orang tua yang selama ini menjadikan anaknya selalu juara dan mendapat ranking di sekolah favorit bisa saja putus asa dengan kebijakan ini. Orang tua kerap beranggapan hanya dengan menjadi juara mereka akan sukses di masa mendatang. Padahal pendidikan anak tidak selalu demikian.
Orang tua beranggapan anak akan menjadi pandai dan sukses selama tinggal dan belajar di lingkungan yang sejenis. Anak akan pintar kalau bergaul dengan anak pintar. Tidak sadar bahwa sikap dan tindakannya telah mendiskriminasi anak-anak lain. Mitos bahwa hanya anak di sekolah favorit yang memiliki akses ke perguruan tinggi terbaik dan pekerjaan bergengsi tentu harus dikubur. Sudah saatnya anak tidak dididik dalam suasana yang diskriminatif dan mencederai. (*)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved