Breaking News:

Book Lover

Rahma Asah Ketangguhan Mental Lewat Buku Filosofi Teras

Salah satu buku rekomendasi tentang kesehatan mental yang tak boleh dilewatkan adalah berjudul Filosofi Teras.

ISTIMEWA
Rahmawati, Guru tahfidz 

Penulis: Akhtur Gumilang

TRIBUNJATENG.COM - Depresi, stres, dan mudah marah adalah beberapa masalah mental yang sering diidap manusia dari zaman ke zaman. Apalagi saat ini, isu kesehatan mental sedang ramai-ramainya diperbincangkan dan diperhatikan, mengingat dinamika kehidupan dewasa ini kian kompleks dan segala sesuatunya dituntut serba cepat.

Salah satu buku rekomendasi tentang kesehatan mental yang tak boleh dilewatkan adalah berjudul Filosofi Teras. Begitu kata Rahmawati. Dara yang akrab dipanggil Rahma ini bilang, Filosofi Teras merupakan istilah lain dari Filsafat Stoa alias stoisisme. Stoa sendiri adalah aliran filsafat Yunani Kuno.

Filsafat biasanya identik dengan bahasan-bahasan yang berat. Namun, apa yang dirasakan Rahma saat membaca buku setebal 346 halaman ini tidak demikian. Ia mengaku sangat nyaman dan menikmati setiap halaman dari buku karya Henry Manampiring ini.

"Sebab, ajaran Filosofi Teras ini sangat aplikatif dan masih relevan dengan problematikan kehidupan sehari-hari saat ini. Walau mengacu dari filsafat Yunani Kuno, penulis andal dalam mengemas sehingga secara tidak langsung, saya malah ikut mempraktekannya tanpa sadar," tutur dara yang akan genap berusia 29 tahun ini.

Awalnya, Rahma mengenal Filosofi Teras ini dari sebuah diskusi dengan saudaranya. Dari obrolan tersebut, kemudian Rahma diberi rekomendasi untuk membaca Filosofi Teras. Belum lama ini ia selesai membaca buku tersebut selama sekira dua minggu. Ia gunakan waktu liburan akhir pekan untuk merampungkan buku terbitan tahun 2018 itu.

Anak kedua dari tiga bersaudara ini menambahkan, Filosofi Teras berisikan 12 bab yang unik dan menarik. Buku ini, lanjut Rahma, membahas tentang riset sederhana mengenai tingkat kekhawatiran hidup seseorang secara keseluruhan. Mulai dari tingkat kekhawatiran tentang studi lanjutan, relationship, pekerjaan, bisnis, kondisi keuangan pribadi, kekhawatiran sebagai orang tua, dan sebagainya.

"Dan lewat Stoisisme ini, kita semacam dituntun bagaimana cara mengatasi berbagai kekhawatiran itu. Lalu, dituntun juga bagaimana cara kita bermental tangguh di tengah peliknya kenyataan hidup. Di saat kita sedang dipenuhi emosi negatif seperti sedih, cemburu, frustasi, takut, putus asa, dan banyak lainnya, buku ini menuntun kita untuk selalu melakukan STAR. Stop Think & Assess Respond," jelasnya.

Dalam buku ini, Rahma mendapat sebelas pelajaran penting yang sudah ia catat. Salah satu pelajaran yang paling diingat lulusan D-IV Ilmu Gizi ini adalah latihlah diri untuk menderita secara berkala. Dengan kata lain, memaksa kemungkinan buruk dalam kehidupan agar tahu rasanya berada dalam posisi kesusahan.

"Hal ini dapat dilakukan dengan cara berpuasa (melatih kelaparan), melakukan digital detox (latihan hidup tanpa internet), dan banyak lainnya. Pokoknya, latihlah diri kita untuk membayangkan hal-hal buruk yang terjadi dalam hidup, sehingga kita bisa lebih siap. Istilah lainnya adalah Premeditatio Malorum," ucap perempuan berkacamata yang sempat tinggal di Yogyakarta itu.

Masih tentang kesusahan, Rahma juga melanjutkan, jika buku ini mengajarkan pembaca agar dapat mengendalikan interpretasi dan persepsi. Maksudnya adalah semua kesusahan yang dirasakan ternyata datang dari pikirin kita sendiri, bukan dari peristiwa orang lain.

"Prinsip utamanya buku ini menuntun kita untuk mengenali Dikotomi Kendali. Yang dimaksudkan di sini adalah segala hal dalam hidup dibagi menjadi dua: hal yang ada di dalam kendali kita, dan hal yang di luar kendali kita. Dikotomi kendali tidak sama dengan pasrah pada keadaan. Oleh karena situasi eksternal adalah sesuatu di luar kendali, maka seolah-olah kita hanya bisa mengubah persepsi saja, dan tidak perlu berupaya, apalagi bekerja keras. Anggapan itu tidak benar," urai Rahma yang berprofesi sebagai guru tahfidz ini. (*)

Penulis: Akhtur Gumilang
Editor: moh anhar
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved