Breaking News:

8 Demonstran Lagi Tewas dalam Aksi Anti-Kudeta Myanmar

Sedikitnya delapan orang tewas di Myanmar ketika pasukan keamanan menembaki aksi protes menentang junta militer pada Minggu (2/5).

Editor: Vito
SELEBARAN/AFP/FACEBOOK
Foto yang diambil dan diterima dari sumber anonim melalui Facebook menunjukkan pengunjuk rasa mengadakan aksi protes dengan menyalakan lilin terhadap kudeta militer di Mogok, divisi Mandalay, Myanmar, pada Senin (11/4/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, YANGON - Sejumlah protes besar-besaran dalam beberapa hari ini mendapat tanggapan keras dari pasukan keamanan, menyebabkan ratusan orang tewas di seluruh penjuru negeri.

Sedikitnya delapan orang tewas di Myanmar ketika pasukan keamanan menembaki aksi protes menentang junta militer pada Minggu (2/5).

Protes pada Minggu itu adalah yang terbesar yang terjadi beberapa hari terakhir, setelah negeri itu menghadapi kekacauan politik akibat kudeta militer 3 bulan lalu.

Ribuan orang di seluruh negeri bergerak bersama dalam aksi-aksi protes pada Minggu (2/5) lalu. Mereka menyerukan dilakukannya apa yang disebut 'Revolusi Musim Semi Myanmar Global'.

Aksi-aksi itu mendukung protes anti-kudeta juga terjadi di luar Myanmar, ketika Paus Fransiskus menyerukan perlunya kedamaian.

Mengutip kantor berita Mizzima, dua orang dilaporkan ditembak dan tewas di lokasi dalam aksi protes di Mandalay, kota terbesar kedua di Myanmar.

Sementara situs berita Irrawaddy menayangkan sebuah potret seorang pria yang disebutkan sebagai seorang petugas keamanan berpakaian preman membidik dengan senjata laras panjang di Mandalay.

Tiga korban tewas lain terjadi di pusat kota Wetlet, seperti dilaporkan kantor berita Myanmar.

Sementara dua media massa setempat melaporkan, dua orang lain tewas di dua kota berbeda di negara bagian Shan, di timur laut Myanmar.

Sedangkan Grup Media Kachin melaporkan, seorang tewas di Hpakant, sebuah kota pertambangan giok di belahan utara.

Namun, Kantor Berita Reuters belum dapat mengonfirmasikan laporan-laporan tersebut. Sementara juru bicara junta militer tidak menanggapi permintaan konfirmasi tersebut.

Adapun, sejumlah ledakan bom dilaporkan terjadi di sejumlah bagian di Yangon hari Minggu lalu.

Serangkaian ledakan itu terjadi dalam intensitas yang terus meningkat di bekas ibukota. Sejauh ini belum ada klaim siapa yang bertanggung jawab adalah ledakan-ledakan bom itu.

Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP), yang memantau situasi, mengatakan pasukan militer telah menewaskan sedikitnya 765 demonstran sejak terjadinya kudeta. Selain itu, 4.609 orang dilaporkan telah ditahan.

Namun, militer yang menilai AAPP sebagai organisasi illegal, mengakui, sebanyak 258 demonstran tewas, bersama dengan 17 polisi dan tujuh tentara. (Tribunnews)

Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved