Breaking News:

Opini

OPINI: Hari Pendidikan Nasional pada Kurikulum Serba Online

Pada usia ke-40, beliau memutuskan untuk mengganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara dan tidak lagi menggunakan nama kebangsawanannya

tribunjateng/ist
Nur Laila Indah | Guru SD Muhammadiyah 1 Temanggung 

Ditulis oleh Nur Laila Indah | Guru SD Muhammadiyah 1 Temanggung

TRIBUNJATENG.COM - Hari Pendidikan Nasional atau disingkat dengan Hardiknas diperingati setiap tanggal 2 Mei yang merupakan hari kelahiran seorang tokoh pelopor pendidikan nasional Indonesia. Bernama lengkap Raden Mas Soewardi Soerjaningrat yang lahir pada tanggal 2 Mei 1889.

Pada usia ke-40, beliau memutuskan untuk mengganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara dan tidak lagi menggunakan nama kebangsawanannya agar dapat lebih membaur dengan masyarakat. Ki Hadjar Dewantara adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, yaitu suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi rakyat pribumi “biasa” untuk memperoleh hak pendidikan. Semasa hidupnya, beliau aktif dalam kancah politik namun pada akhirnya lebih konsen dalam bidang pendidikan.

Pada masa Pandemi Covid-19 ini, Hardiknas mengusung tema “Serentak Bergerak, Wujudkan Merdeka Belajar”. Adapun cara merayakan Hari Pendidikan Nasional telah disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim, melalui surat edaran Nomor 27664/MPK.A/TU.02.03/2021 yang dirilis pada tanggal 26 April 2021 yang lalu.

Arti Kurikulum

Kurikulum berasal dari bahasa Yunani yang mulanya digunakan dalam bidang olahraga yaitu kata curere yang berarti jarak tempuh lari. Jarak antara start dan finish ini yang disebut curere. Menurut UU Sisdiknas Nomor 20 tahun 2003, kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Adapun kurikulum menurut para ahli yang berjumlah 12 orang, masing-masing mempunyai pendapat yang berbeda namun pada intinya terdapat satu benang merah atau kesamaan yaitu mulai dari proses perencanaan, proses pembelajaran hingga evaluasi pembelajaran. Semua itu menjadi satu kesatuan yang tidak dapat berdiri sendiri. Kurikulum adalah menjadi satu acuan yang harus dilakukan oleh sebuah instansi pendidikan yang bernaung dibawah Dinas Pendidikan di seluruh Indonesia.

Setiap kurikulum pasti mempunyai tantangan sendiri-sendiri. Tantangan kurikulum terbaru adalah mempunyai 2 tantangan yakni dari internal maupun eksternal. Tantangan Internal harus memenuhi 8 standar Nasional Pendidikan yang akan dilakukan pengecekan atau akreditasi dari lembaga yang berwenang secara berkala. Hal ini dilakukan demi terwujudnya pencapaian kurikulum yang dilakukan sesuai dengan prosedur yang ada. Tantangan eksternal dapat berupa arus globalisasi yang tidak dapat dibendung. Hal ini mengharuskan siswa mempunyai kompetensi sebagai bekal pada abad 21. Pengembangan kurikulum dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa hal yakni pencapaian kompetensi berpikir tingkat tinggi (High Order Thinking Skills), Penciptaan Kesempatan Kerja, Peserta Didik, serta Dasar-dasar dan Ciri aspek akademik tentang kurikulum.

Pergantian Kurikulum

Pada era saat ini, zaman sudah sangat canggih atau biasa dikenal dengan era 4.0. Atas pemikiran para ahli dan para Profesor, tentang perlu adanya sebuah perubahan kurikulum yang harus mengikuti perkembangan zaman, sehingga para murid di Indonesia dapat berlari dan mampu bersaing dengan siswa yang lebih maju.

Halaman
12
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved