Breaking News:

Opini

OPINI: Kuttab Itu Pesantren?

Belakangan ini muncul lembaga pendidikan Islam yang mengusung nama kuttab. Di Jawa Tengah, sudah muncul di kota Semarang, kota Surakarta, Klaten

tribunjateng/ist
DR Aji Sofanudin | Senior Researcher Balitbang dan Diklat Kementerian Agama RI 

Ditulis oleh DR Aji Sofanudin | Senior Researcher Balitbang dan Diklat Kementerian Agama RI

TRIBUNJATENG.COM - Belakangan ini muncul lembaga pendidikan Islam yang mengusung nama kuttab. Di Jawa Tengah, sudah muncul di kota Semarang, kota Surakarta, Klaten, Kendal, Tegal, Purwokerto, dan kab/kota yang lain. Meskipun demikian, pemerintah (Kemendikbud dan/atau Kemenag) tidak memiliki data base jumlah kuttab di Indonesia.

Selama ini, perijinan kuttab beragam, ada yang memiliki ijin operasional (1) sebagai Pusat Kegiatan Belajar Mayarakat (PKBM) di bawah Dinas Pendidikan; (2) sebagai pendidikan kesetaraan tingkat ula di bawah Kementerian Agama; (3) menginduk pada PKBM lain; dan (4) tidak/belum memiliki ijin operasional.

Kuttab adalah Pesantren

Jika menengok sejarah kelembagaan pendidikan Islam memang mengalami beberapa etape: (1) pesantren (pesantren tertua adalah Ponpes Sidogiri tahun 1745 dan Ponpes Jamsaren Solo 1750 (2) madrasah (madrasah tertua adalah adabiyah tahun 1909), (3) sekolah berciri Islam (HIS met de Quran tahun 1924), (4) sekolah Islam terpadu (JSIT tahun 2003), dan (5) sekolah alam bernuansa agama (JSAN tahun 2011). Belakangan ini muncul lembaga pendidikan Islam yang dikenal dengan sebutan Kuttab. Salah satunya adalah Kuttab Al-Fatih, yang berdiri tahun 2012 dan memiliki 34 cabang di Indonesia.

Undang-undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, menyebutkan bahwa pesantren adalah lembaga yang berbasis masyarakat dan didirikan oleh perseorangan, yayasan, organisasi masyarakat Islam, dan/atau masyarakat yang menanamkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt, menyemaikan akhlak mulia serta memegang teguh ajaran Islam rahmatan lil’alamin yang tercermin dari sikap rendah hati, toleran, keseimbangan, moderat, dan nilai luhur bangsa Indonesia lainnya melalui pendidikan, dakwah Islam, keteladanan, dan pemberdayaan masyarakat dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (Pasal 1). Dalam UU tersebut disebutkan bahwa Dayah, Surau, Meunasah, atau sebutan lain selanjutnya disebut pesantren.

Selain Dayah (Aceh), Surau (Minangkabau), dan Meunasah di masyarakat juga berkembang Kuttab. Kata kuttab atau maktab berasal dari kata dasar ka-ta-ba yang berarti menulis atau tempat belajar menulis. Kuttab atau katib berarti penulis. Pada perkembangannya, nama kuttab dipakai untuk menyebutkan tempat belajar al-Quran untuk anak-anak. Dalam konteks sekarang, kuttab adalah lembaga pendidikan anak berusia TK/RA dan/atau SD/MI, yakni berusia 5-12 tahun.

Dalam PP Nomor 55 Tahun 2007 dikenal istilah pendidikan agama dan pendidikan keagamaan. Pendidikan keagamaan adalah pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan tentang ajaran agama dan/atau menjadi ahli ilmu agama dan mengamalkan ajaran agamanya. Termasuk pendidikan keagamaan adalah pesantren (Islam), pasraman; pratama widya, adi widya, madyawa widya, utama widya (Hindu), pesantian (Hindu), pabbajja (Budha), Dhammasekha; Nava, Mula, Muda, Uttama (Budha), Shuyuan (Kong Hu Cu), Sekolah Teologi Kristen: SDTK, SMPTK, SMATK, dan sekolah minggu.

Inti dari pendidikan keagamaan adalah untuk menjadi ahli agama. Salah satu ciri khusus pada pendidikan keagamaan adalah kurikulum yang sarat dengan muatan agama. Dalam konteks kurikulum, kuttab lebih dekat kepada lembaga pendidikan keagamaan Islam.

Hemat penulis, kuttab adalah pesantren. Lebih tepatnya pesantren tanpa asrama (pondok). Perijinan kuttab selama ini pada dinas pendidikan (PKBM) secara substansi tidak tepat. Kuttab lebih mirip sebagai pendidikan keagamaan Islam.

Kuttab adalah pesantren tanpa asrama (pondok). Kuttab (mungkin) bisa dimasukkan dalam Satuan Pendidikan Muaddalah (SPM). Kementerian Agama RI sudah memiliki kebijakan Muaddalah untuk tingkat menengah (setingkat SMP/MTs dan SMA/MA), sebagaimana Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) pada Gontor.

Mungkin perlu juga membuka kemungkinan Satuan Pendidikan Muaddalah di tingkat dasar/ula (setingkat SD/MI). Kuttab bisa dimasukkan ke dalam muaddalah dasar sebagai bentuk inovasi baru layanan Kementerian Agama RI.

Secara de jure belum ada nomenklatur kuttab, bahkan dalam KBBI pun tidak dikenal istilah kuttab. Meskipun demikian, de facto di masyarakat telah berkembang secara pesat kuttab dengan berbagai nama. Apakah pemerintah akan membiarkan? Bukankah lebih baik pemerintah hadir dan melayani? Wallahu’alam. (*)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved