Breaking News:

Puisi

Puisi Telepon Genggam Joko Pinurbo

Puisi Telepon Genggam Joko Pinurbo: Di pesta pernikahan temannya ia berkenalan dengan perempuan yang kebetulan menghampirinya. Mata mengincar mata, me

Penulis: iam
Editor: abduh imanulhaq
TWITTER/KOMPASMUDA_JGJ
Joko Pinurbo 

Akhirnya terdengar juga bunyi panggilan. Ia berdebar
membayangkan perempuan itu mengucap salam:
Tidurlah sayang, sudah malam. Kau tak akan pernah
kutinggalkan. Ternyata cuma umpatan dari seseorang
yang tak ia kenal: Gile, tidur aja pake jas segala.
Emangnya mau mati?

Berpuluh pesan telah ia tulis dan kirimkan dan tak
pernah ada balasan. Hanya sekali ia terima pesan, itu
pun cuma iseng: Selamat, Anda mendapat hadiah
undian mobil kodok. Segera kirimkan foto Anda untuk
dicocokkan dengan kodoknya.

Antara tertidur dan terjaga, antara harap dan putus asa,
telepon genggamnya tiba-tiba berbunyi nyaring. Ia
tempelkan benda ajaib itu ke telinganya dan ia dengar
suara burung berkicau tak henti-hentinya. Suara burung
yang dulu sering ia dengar dari rerimbun pohon sawo di
halaman rumahnya, rumah ibu-bapaknya.

Di luar hujan telah turun, terdengar suara peronda
meninggalkan gardu. Ia ingin tidur saja karena merasa
tak ada lagi yang mesti ditunggu. Ketika untuk terakhir
kali ia mencoba menghubungi nomor perempuan itu, ia
terkesiap takjub melihat layar telepon genggamnya
memancarkan gambar gerimis mengguyur senja.

Kalau harus gila, gila sajalah. Ia ingin pulas dalam
mimpi yang ia tahu tak pernah pasti. Emangnya gue
pikirin? Ia pura-pura tak acuh, padahal sangat butuh. Ia
betulkan jasnya, genggam erat surga kecilnya. Lalu
terpejam, terlunta-lunta: tubuh rapuh tak berdaya yang
ingin tetap tampak perkasa.

Ketika ia merasa bahwa tidur pun tak bisa lagi
menolongnya, telepon genggamnya tiba-tiba
memanggil. Ia dengar suara anak kecil menangis tak
putus-putusnya. Nyaring, lengking, lebih lengking dari
hening. Namun ia terpejam saja, terpejam sebisanya,
sementara telepon genggamnya meronta-ronta dalam
cengkeramannya.

Apa yang sedang ia bayangkan? Mungkin ia melihat
seorang anak lelaki kecil pulang dari main layang-layang
di padang lapang dan mendapatkan rumahnya sudah
kosong dan lengang. Hanya terdengar suara burung
berkicau bersahutan di rerindang ranting dan dahan.
Hanya ada seorang anak perempuan kecil, dengan raut
rindu dan binar bisu, sedang risau menunggu. Seperti
saudara kembar yang ingin benar memeluknya dalam
haru, mengajaknya bermain di bawah pohon sawo:
pohon hayat yang tak terlihat waktu.

(*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved