Breaking News:

Ratusan Orang Tewas dan 1 Kampung Hilang Erupsi Kawah Sileri Dieng 1944: Dulu Hanya Lubang Kecil

Lalu bagaimana dengan letusan pada Tahun 1944 dan 1964 yang sampai menewaskan ratusan orang. Tentu sulit membayangkan kengerian letusan Kawah Sileri.

Tribun Jateng/ Khoirul Muzaki
Lahan tertutup lumpur dampak letusan Kawah Sileri, Kamis (29/4/2021) lalu. 

Khoirul Muzakki

TRIBUNJATENG.COM, BANJARNEGARA - Dataran tinggi Dieng selalu menjadi daya tarik bagi wisatawan, baik lokal hingga mancanegara. Keindahan alam dan kekayaan tradisinya tidak terbantahkan.  Dieng bahkan sudah menjadi jujugan para pelancong sejak zaman kolonial. Bukan hanya menarik untuk plesiran, Dieng nyaman ditinggali karena menjanjikan kemakmuran.

Kesuburan tanahnya membuat daerah di ketinggian sekitar 2000 mdpl itu berkembang banyak pemukiman. Lahan-lahan subur di kawasan vulkanik itu jadi sumber matapencaharian warga untuk bercocok tanam. Termasuk, lahan di sekitar kawah-kawah aktif Dieng. Mereka pun mendirikan pemukiman di sekitar kawah.

Tapi kemakmuran yang dijanjikan tanah Dieng setimpal dengan risiko bencana alam yang mengacam setiap saat. Dalam perjalanan sejarah, beberapa desa atau perkampungan di Dieng hilang atau lenyap karena bencana.

Erupsi Kawah Sileri, Kamis (29/4) lalu mengingatkan akan tragedi memilukan di masa lampau. Letusan freatik itu telah menghanguskan puluhan hektar lahan di sekitar kawah, termasuk merusak beberapa bangunan atau fasilitas umum di sekitarnya. Dari pengamatan visual, dampak letusan itu sudah terlihat mengerikan. Lalu bagaimana dengan letusan pada Tahun 1944 dan 1964 yang sampai menewaskan ratusan orang. Tentu sulit membayangkan kengerian letusan Kawah Sileri di hari mencekam kala itu.

Mardiyono, warga Desa Kepakisan mengatakan, bentuk Kawah Sileri mulanya tidaklah seperti sekarang ini.

“Dulu kawahnya kecil,”katanya

Ia sendiri tak tahu persis peristiwa letusan Kawah Sileri. Saat bencana itu terjadi, ia belum lahir. Cerita tentang letusan Kawah Sileri hanya mengalir dari mulut ke mulut orang tua yang selamat dari kejadian itu. Dari cerita yang ia dengar, Kawah Sileri mulanya hanya berupa lubang kecil berdiameter sekitar antara 50 cm sampai 1 meter.

Tetapi siapa sangka, lubang itu terus membesar, terutama setelah terjadi letusan besar tahun 1944. Letusan Sileri kala itu menjadi kiamat kecil di tengah penderitaan masyarakat yang belum lepas dari belenggu penjajahan. Erupsi yang terjadi tiba-tiba membuat masyarakat di Desa atau Kampung Jawera tak mampu mempersiapkan diri.

Kampung itu, kata Mardiyono, hanya terletak kurang lebih 1 kilometer di sisi barat kawah Sileri.

Halaman
12
Penulis: khoirul muzaki
Editor: Daniel Ari Purnomo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved