Breaking News:

Liputan Khusus

Ini Penyebab Hasil Tes Rapid di Dua Rumah Sakit Bisa Berbeda

Dokter Indrayani Padmosoedarso, Penanggungjawab Lab di SMC RS Telogorejo memberikan penjelasan terkait prosedur rapid test antigen yang benar.

TRIBUN JATENG/FAIZAL M AFFAN
TES SWAB - Seorang dokter sedang melakukan tes swab terhadap pasien di SMC RS Telogorejo Semarang. Hasil dari swab test kemudian akan langsung dianalisis oleh tenaga laboratorium yang juga berada di lokasi yang sama. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Penyalahgunaan alat rapid tes antigen bekas tidak hanya menyalahi prosedur, tapi juga berdampak negatif, membuat pasien kurang percaya kepada hasil tes covid yang dilakukan oleh petugas medis.
Dokter Indrayani Padmosoedarso, Penanggungjawab Lab di SMC RS Telogorejo memberikan penjelasan terkait prosedur rapid test antigen yang benar. "Sebelum pasien dilakukan tindakan tes covid, pasien akan ditanya identitasnya terlebih dahulu. Minimal nama dan tanggal lahir. Kemudian pasien akan ditunjukkan alat yang akan digunakan sebagai test rapid antigen. Harusnya alat tersebut masih terbungkus rapi," jelasnya.
Hanya dokter yang boleh menangani pasien. Bukan perawat maupun tenaga kesehatan lain. "Kami tidak mau kalau yang melakukan tes bukan dokter. Karena hanya dokter yang bisa tahu teknik menggunakan alat yang benar. Karena salah menggunakan alat tes covid, maka berbeda pula hasilnya," terangnya.
Satu dokter dibantu empat tenaga kesehatan lain untuk melakukan proses uji lab selanjutnya. Jadi jaminan keamanan hasil tes sangat dijaga ketat, supaya tidak salah dalam mendiagnosa.
Dalam sehari, ada 70an pasien yang melakukan tes rapid antigen di SMC RS Telogorejo. Pendaftaran dilakukan secara online sehingga semua pelayanan dan data pasien tersimpan dengan baik.
Beda Hasil Tes
Bagaimana kemungkinan beda hasil tes di satu tempat pelayanan kesehatan dengan rumah sakit lain? Dokter Indrayani menjelaskan, hal tersebut bisa didasarkan pada beberapa faktor. Satu di antaranya yakni tingkat kesensitifan alat tes yang berbeda-beda.
"Alat tes covid yang beredar di Indonesia memiliki tingkat kesensitifan virus yang berbeda-beda. Ada yang bisa terdeteksi hanya cukup dengan 50 copy virus, tapi ada pula yang harus sampai 200 copy virus. Sedangkan SMC RS Telogorejo menggunakan alat yang sensitifitasnya tinggi. Sehingga lebih akurat. Termasuk virus yang bermutasi, kami ada alat yang bisa mendeteksinya. Karena kalau alat tes covid biasa, itu tidak bisa. Virus itu bisa sembunyi di dalam antibodi tubuh manusia," bebernya.
Maka Dokter ini menyarankan agar masyarakat jangan asal memilih faskes karena murah. Akreditasi pelayanan jadi pertimbangan. "Lebih baik mahal sedikit asal hasilnya tepat dan akurat," imbaunya.
Dokter Gracia Rutyana Harianto, Direktur Pemasaran SMC RS Telogorejo, mengaku prihatin dengan kasus penggunaan alat tes covid bekas yang ada di Sumatera Utara. Namun, pihaknya menjamin hal tersebut tidak akan terjadi di SMC RS Telogorejo.
"Di rumah sakit kami para tenaga kesehatan wajib memegang teguh kejujuran dan integritas. Jangankan barang bekas, barang yang tidak sesuai standar saja kadang kita tidak mau. Maka, kami sangat memperhatikan produk maupun pelayanan yang diberikan," tambahnya.
Harus Dihukum Berat
Ketua Pengurus Harian Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen (LP2K) Jateng, Abdun Mufid, SH mengatakan, penggunaan alat bekas sangat melanggar hak konsumen. Melanggar melanggar UU No 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
Dijelaskannya, dalam pasal 8 ayat (1) a. ditegaskan bahwa pelaku usaha dilarang memproduksi dan atau memperdagangkan barang dan atau jasa yang tidak memenuhi dan tidak sesuai dengan standard yang dipersyaratkan oleh peraturan perundangan.
Selain itu pada pasal 8 ayat (2) Pelaku usaha dilarang memperdagangkan barang yang rusak, cacat atau bekas, dan tercemar tanpa memberikan informasi secara lengkap dan benar atas barang dimaksud.
Pelanggaran terhadap hal tersebut diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan atau pidana denda paling banyak Rp 2 miliar. "Aparat harus melakukan penyelidikan secara tuntas tidak hanya pada lokus terjadinya kasus, tetapi juga secara luas untuk mengantisipasi adanya praktek serupa di daerah daerah lain, " ujarnya. (tim)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved