Breaking News:

Berita Semarang

Samidi: Primbon Bukan Klenik Tapi Mengandung Laku Spiritual Sufisme Jawa

Dari sekian banyak primbon Jawa, ternyata ada juga primbon yang berisi tentang pengetahuan hingga ajaran tasawuf salahsatunya tentang laku spiritual.

Istimewa
Penulis Buku berjudul Laku Spiritual Sufisme Jawa, Samidi Khalim (dua dari kanan) yang juga Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Agama Semarang, kementerian Agama (Kemenag), saat memberi pemaparan dalam bedah bukunya pada Rabu (5/5/2021) kemarin, di Hotel Pandanaran Semarang. 

TRIBUNJATENG.COM - Primbon atau kitab warisan leluhur Jawa yang di dalamnya mengandung pitutur atau ajaran untuk hidup selaras dengan sesama manusia, alam, dan Tuhan, banyak disalahsartikan menjadi identik dengan klenik.

Dari sekian banyak primbon Jawa, ternyata ada juga primbon yang berisi tentang pengetahuan hingga ajaran tasawuf salahsatunya tentang laku spiritual.

Belum lama ini, yakni Rabu (5/5/2021) kemarin, dibedah buku berjudul ‘Laku Spiritual Sufisme Jawa’ karya Samidi Khalim yang juga Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Agama Semarang, kementerian Agama (Kemenag).

Penulis Buku berjudul Laku Spiritual Sufisme Jawa, Samidi Khalim yang juga Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Agama Semarang, kementerian Agama (Kemenag), saat memberi pemaparan dalam bedah bukunya pada Rabu (5/5/2021) kemarin, di Hotel Pandanaran Semarang.
Penulis Buku berjudul Laku Spiritual Sufisme Jawa, Samidi Khalim yang juga Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Agama Semarang, kementerian Agama (Kemenag), saat memberi pemaparan dalam bedah bukunya pada Rabu (5/5/2021) kemarin, di Hotel Pandanaran Semarang. (Istimewa)

“Melalui buku ini, saya ingin mencoba menghilangkan mitos atau kesalahpahaman mengenai primbon yang identik dengan klenik atau perdukunan,” ungkap Samidi.

Dalam buku itu, dijelaskan mengenai laku spiritual kaum Islam kejawen atau sufisme Jawa bahwa jika dikaji secara mendalam hampir sama dengan laku spiritual yang ada di dalam ajaran tasawuf.

Seperti Mujahadah, Riyadloh, Uzlah, yang tujuannya untuk mengendalikan hawa nafsu agar manusia bisa berbudi pekerti luhur.

Semisal dalam sufisme Jawa terdapat dalam kitab primbon mengenai laku Salat Daim.

“Artinya, kita senantiasa dzikir dan ingat Allah SWT dengan cara berdzikir Hu Allah terus menerus. Salat yang tak mengenal waktu dan tempat, senantiasa terkoneksi dengan Allah agar berbudi pekerti luhur baik pada sesama manusia, alam, dan Tuhannya,” ungkapnya.

Kemudian terdapat laku puasa. Di kalangan orang Islam Jawa, puasa yang dilakukan tidak seperti pada umumnya melainkan lebih berat.

Penulis Buku berjudul Laku Spiritual Sufisme Jawa, Samidi Khalim (dua dari kanan) yang juga Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Agama Semarang, kementerian Agama (Kemenag), saat memberi pemaparan dalam bedah bukunya pada Rabu (5/5/2021) kemarin, di Hotel Pandanaran Semarang.
Penulis Buku berjudul Laku Spiritual Sufisme Jawa, Samidi Khalim (dua dari kanan) yang juga Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Agama Semarang, kementerian Agama (Kemenag), saat memberi pemaparan dalam bedah bukunya pada Rabu (5/5/2021) kemarin, di Hotel Pandanaran Semarang. (Istimewa)

Semisal puasa Mutih, yaitu tatacaranya seperti puasa pada umumnya tapi makannya hanya nasi putih dan hanya minum air putih selama beberapa hari.

Halaman
123
Penulis: m nur huda
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved